Perumusan Masalah dan Tinjauan Pustaka
Metedologi Penelitian
Perumusan Masalah dan Tinjauan Pustaka
 
Proses Penelitian Kuantitatif

Gambar 2.1 dapat dijelasankan sebagai berikut. Setiap penelitian selalu berangkat dan masalah, namun masalah yang dibawa peneliti kuantitatif dan kualitatif berbeda. Dalam penelitian kuantitatif, masalah harus sudah jelas, sedangkan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti memasuki lapangan.
 Setelah masalah diidentifikasikan, dan di batasi, maka selanjutnya masalah tersebut dirumuskan. Rumusan masalah pada umumnya dinyatakan dalam kalimat pertanyaan. Dengan pertanyaan ini maka akan dapat memandu peneliti untuk kegiatan penelitian selanjutnya. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka peneliti menggunakan berbagai teori untuk menjawabnya. Jadi teori dalam penelitian kuantitatif ini digunakan untuk menjawab rumusan masalah penelitian tersebut. Jawaban terhadap rumusan masalah yang baru menggunakan teori tersebut dinamakan hipotesis, maka hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian.
Proses Penelitian Kuantitatif
Hipotesis yang masih merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah tersebut, selanjutnya akan dibuktikan kebenarannya secara empiris berdasarkan data dari lapangan. Untuk itu peneliti melakukan pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan pada populasi tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti. Bila populasi terlalu luas, sedangkan peneliti memiliki keterbatasan waktu, dana dan tenaga, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut. Bila peneliti bermaksud membuat generalisasi, maka sampel yang diambil harus representatif, dengan teknik random sampling.
Meneliti adalah mencari data yang teliti/akurat. Untuk itu peneliti perlu menggunakan instrumen penelitian. Dalam ilmu-ilmu dan, teknik, dan ilmu-ilmu empirik lainnya, instrumen penelitian seperti termometer untuk mengukur suhu, timbangan untuk mengukur berat semuanya sudah ada, sehingga tidak perlu membuat instrumen. Tetapi dalam penelitian sosial seperti pendidikan, sering instrumen yang akan digunakan untuk meneliti belum ada, sehingga peneliti harus membuat atau mengembangkan sendiri. Agar instrumen dapat dipercaya, maka harus diuji validitas dan reliabilitasnya.
Proses Penelitian Kuantitatif
   Setelah instrumen teruji validitas dan reliabilitasnya, maka dapat digunakan untuk mengukur variabel yang telah ditetapkan untuk diteliti. Instrumen untuk pengumpulan data dapat berbentuk test dan nontest. Untuk instrumen yang berbentuk nontest, dapat digunakan sebagai kuesioner, pedoman observasi dan wawancara. Dengan demikian teknik pengumpulan data selain berupa test dalam penelitian ini dapat berupa kuesioner, observasi dan wawancara.
 Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis. Analisis diarahkan untuk menjawab rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan. Dalam penelitian kuantitatif analisis data menggunakan statistik. Statistik yang digunakan dapat berupa statistik deskriptif dan inferensial / induktif. Statistik inferensial dapat berupa statistik  parametris dan statistik nonparametris. Peneliti menggunakan statistik inferensial bila penelitian dilakukan pada sampel yang diambil secara random.
Proses Penelitian Kuantitatif
Data hasil analisis selanjutnya disajikan dan diberikan pembahasan. Penyajian data dapat mengunakan tabel, tabel distribusi frekuensi, grafik garis, grafik batang, piechart (diagram lingkaran), dan pictogram. Pembahasan terhadap hasil penelitian merupakan penjelasan yang mendalam dan interprestasi terhadap data-data yang telah disajikan.
Setelah hasil penelitian diberikan pembahasan, maka selanjutnya dapat disimpulkan. Kesimpulan berisi jawaban singkat terhadap setiap rumusan masalah berdasarkan data yang telah terkumpul. Jadi kalau rumusan masalah ada lima, maka kesimpulannya juga ada lima. Karena peneliti melakukan penelitian bertujuan untuk memecahkan masalah, maka peneliti berkewajiban untuk memberikan saran-saran. Melalui saran-saran tersebut diharapkan masalah dapat dipecahkan. Saran yang diberikan harus berdasarkan kesimpulan hasil penelitian. Jadi jangan membuat saran yang tidak berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan. Apabila hipotesis penelitian yang diajukan tidak terbukti, maka perlu dicek apakah ada yang salah dalam penggunaan teori, instrumen, pengumpulan, analisis data, atau rumusan masalah yang diajukan.
PERUMUSAN MASALAH DAN TINJAUAN PUSTAKA
Ada tiga langkah awal dalam proses penelitian, yaitu: identifikasi bidang masalah (topik), pencarian data awal melalui studi pustaka (survei literatur), dan perumusan masalah secara jelas dan tepat.
SELEKSI TOPIK DAN MASALAH
Setelah topik permasalahan diketahui, permasalahan secara spesifik perlu dipilih untuk penelitian lebih lanjut. Sumber utama dalam pemilihan permasalahan ini adalah teori, studi empiris sebelumnya, dan pengalaman peneliti. Permasalahan yang baik mempunyai beberapa karakteristik tertentu. Pernyataan permasalahan yang baik juga memenuhi beberapa kriteria tertentu.
Identifikasi Topik Penelitian
Bagi peneliti pemula, seleksi topik penelitian merupakan tahap yang paling sulit untuk dilakukan. Topik yang dipilih sering kali sudah diteliti oleh peneliti lain, atau terlalu sederhana, sehingga tidak perlu diangkat sebagai Permasalahan dalam penelitian. Beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam seleksi topik penelitian adalah:
üApakah ada permasalahan?
üApakah masalah tersebut dapat dipecahkan melalui penelitian?
üApakah masalah tersebut menarik untuk dipecahkan?
üApakah masalah tersebut bermanfaat untuk dipecahkan?
Pada umumnya identifikasi masalah dilakukan dari permasalahan umum yang berhubungan dengan keahlian yang dipunyai dan menarik untuk dipecahkan. Kemudian dari permasalahan umum yang telah ditentukan, diambil suatu  permasalahan yang lebih spesifik dan lebih memungkinkan untuk diteliti. Dengan demikian, dari permasalahan yang bersifat umum tersebut akan diambil (atau ditentukan) suatu permasalahan yang spesifik.
Sumber Permasalahan
Ada dua sumber permasalahan yang dapat digunakan untuk penelitian. Pertama, literatur atau bahan bacaan yang berhubungan dengan minat dan pengetahuan peneliti. Dari bahan bacaan ini peneliti dapat memperoleh Permasalahan yang menarik minat perhatiannya, dapat dipecahkan melalui penelitian, dan bermanfaat untuk dipecahkan. Di samping bahan bacaan, pengalaman (pribadi) juga akan merupakan sumber permasalahan yang cukup banyak. Semakin banyak pengalaman seseorang, baik peneliti maupun manajer, akan semakin banyak permasalahan yang didapatkannya untuk suatu penelitian.
Karakteristik Permasalahan Penelitian
Karakteristik yang pertama adalah permasalahan tersebut dapat diselidiki melalui pengumpulan dan analisis data. Karakteristik yang kedua adalah mempunyai arti penting dari latar belakang teori maupun praktik.
Permasalahan yang baik, sebenarnya adalah permasalahan yang dirasakan baik oleh peneliti, dalam arti empat macam hal berikut. Pertama, peneliti mempunyai keahlian dalam bidang tersebut. Kedua, tingkat kemampuan peneliti memang sesuai dengan tingkat kemampuan yang diperlukan untuk memecahkan permasalahan yang ada. Ketiga, peneliti mempunyai sumber daya yang diperlukan. Keempat, peneliti telah mempertimbangkan kendala waktu, dana, dan berbagai kendala yang lain dalam pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan.
Identifikasi Masalah
Proses identifikasi masalah adalah apabila manajemen mengetahui dan menyadari bahwa telah atau akan terjadi situasi yang tidak diinginkan. Beberapa situasi bisa terlihat dengan jelas, misalnya, pemogokan karyawan, tingginya tingkat perputaran karyawan, penurunan jumlah produksi dan sebagainya, namun beberapa yang lain hanya terlihat secara samar.
Untuk melakukan penelitian diperlukan pengenalan masalah terutama masalah yang terlihat samar dan sulit untuk diidentifikasi. ldentifikasi permasalahan yang diturunkan dari teori membawa beberapa keuntungan, yaitu:
1. Peneliti sudah mempelajari teori aplikasinya yang terkait untuk menjawab persoalan yang ada.
2. Formulas/ hipotesis pada umumnya akan menjadi lebih mudah dan jelas, karena mempunyai hubungan yang erat dengan teori.
3. Hasil penelitian akan memberikan kontribusi terhadap teori yang dijadikan dasar untuk perumusan masalah.dasar untuk perumusan masalah.
Identifikasi Masalah
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan permasalahan penelitian adalah:
1.Kegunaan Penelitian : Aspek yang penting dalam pemilihan masalah penelitian adalah kegunaan penelitian. Setiap ada permasalahan, pertanyaan pertama adalah manfaat yang diperoleh dari penelitian. Kalau ada, penelitian hanya dilakukan untuk penyelesaian masalah yang mempunyai manfaat lebih besar daripada biayanya.
2.Prioritas : Banyak permasalahan yang memerlukan penelitian serta mempunyai kegunaan penelitian yang jelas dalam perusahaan. Namun demikian, tidak semua dari permasalahan tersebut diangkat sebagai permasalahan penelitian. Manajemen menyusun daftar prioritas, sehingga dapat diketahui permasalahan yang mana yang akan diteliti terlebih dahulu.
Identifikasi Masalah
3.Kendala Waktu dan Dana : Erat hubungannya dengan prioritas yang disusun oleh manajer adalah kendala waktu dan dana.
4.Dapat Diselidiki : Ada dua hal dalam hubungannya dengan dapat dan tidaknya suatu permasalahan untuk diselidiki. Hal ini bisa terjadi karena masalah tersebut secara teoretis tidak dapat diselidiki, atau belum terdapat teori dasar untuk menyelidiki. Kedua, permasalahan tersebut secara teoretis dapat diselidiki, namun karena pertimbangan tertentu tidak diizinkan untuk diselidiki oleh aparat yang berwenang.
5.Kemampuan Peneliti : Apabila peneliti tertarik kepada suatu masalah, masih terdapat beberapa hal lain yang perlu untuk dipertimbangkan, yaitu:
ØKendala waktu dan anggaran
ØTersedianya data yang diperlukan
ØTingkat keahlian peneliti.
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka, atau survei literatur, merupakan langkah penting di dalam penelitian. Langkah ini meliputi identifikasi, lokasi, dan analisis dari dokumen yang berisi informasi yang berhubungan dengan permasalahan penelitian secara sistematis. Dokumen ini meliputi jurnal, abstrak, tinjauan, buku, data statistik, dan laporan penelitian yang relevan.
Tujuan utama dari tinjauan pustaka ini adalah untuk melihat apa saja yang pernah dilakukan sehubungan dengan masalah yang diteliti. Selain menghindarkan dari duplikasi penelitian, tinjauan pustaka juga dapat menghasilkan pengertian dan pandangan yang lebih jauh tentang permasalahan yang diteliti. Melalui langkah ini penyusunan hipotesis juga lebih baik karena pemahaman permasalahan yang diteliti akan lebih mendalam.
TINJAUAN PUSTAKA
Survei literatur memastikan bahwa:
1.Variabel penting yang kemungkinan besar memengaruhi situasi masalah tidak terlewatkan dalam studi.
2.Gagasan yang lebih jelas akan muncul, misalnya variabel apa yang paling penting untuk dipertimbangkan (sifat hemat), mengapa variabel tersebut dianggap penting, dan bagaimana variabel diinvestigasi untuk memecahkan masalah.,Dengan demikian, survei literatur membantu penyusunan kerangka teoretis dan hipotesis untuk pengujian.
3.Pernyataan masalah dapat dibuat dengan tepat dan jelas.
4.Sifat dapat diuji
5.Peneliti tidak memboroskan usaha dengan mencoba menemukan kembali sesuatu yang sudah diketahui.
TINJAUAN PUSTAKA
Tiga yang dapat dipertimbangkan sebagai masukan untuk menentukan tinjauan pustaka.
1.Semakin banyak tinjauan pustaka tidak selalu berarti semakin baik. Tinjauan pustaka yang sedikit namun terorganisasi dengan rapi dan terkait erat dengan penelitian yang dilakukan adalah lebih baik dari pada tinjauan pustaka yang banyak namun tidak terarah dan tidak berhubungan dengan penelitian yang dilakukan. Tinjauan pustaka lebih baik terfokus kepada bidang penelitian yang akan dilakukan.
2.Bidang penelitian yang telah sering dilakukan memerlukan fokus yang lebih terpusat daripada area baru di mana penelitian masih jarang dilakukan. Oleh karena itu, peneliti yang melakukan penelitian pada bidang yang telah sering dilakukan penelitian perlu membatasi pada bidang yang lebih sempit namun sangat mendalam.
3.Sebaliknya apabila penelitian yang dilakukan adalah pada bidang yang belum atau masih jarang dilakukan penelitian, pembatasan fokus menjadi agak lebar. Kelebaran tinjauan pustaka akan membantu dalam penyusunan kerangka analisis untuk studi yang bersifat eksploratif dan dapat memperoleh bahan penyusunan hipotesis yang lebih rasional.
Sumber Pustaka
Pada umumnya terdapat banyak sumber pustaka yang dapat dipergu-nakan dalam penelitian. Buku teks, ensiklopedi, jurnal, dan berbagai macam artikel tentang bisnis dan ekonomi lazim dipergunakan oleh para peneliti. Abstraksi penelitian yang telah dilakukan juga merupakan sumber yang balk. Beberapa data yang berhubungan dengan perkembangan bisnis yangberupa informasi statistik dapat diperoleh melalui berbagai lembaga, baik lembaga pemerintahan, universitas, asosiasi perusahaan, maupun media massa.
Menulis Tinjauan Literatur
Dokumentasi studi relevan yang mengutip penulis dan tahun studi disebut sebagai tinjauan literatur atau survei literatur. Survei literatur merupakan penyajian yang jelas dan logis mengenai karya penelitian yang relevan yang dilakukan sejauh ini dalam bidang investigasi. Dokumentasi semacam itu adalah penting untuk meyakinkan pembaca bahwa (1) peneliti menguasai persoalan dan telah melakukan pekerjaan rumah pendahuluan yang diperlukan untuk mengadakan penelitian, dan (2) kerangka teoretis akan disusun di atas penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dan akan berkontribusi pada dasar pengetahuan yang yang telah ada sebelumnya. 
Perlu dicatat bahwa survei literatur hendaknya menampilkan semua informasi yang relevan dengan meyakinkan dan logis, alih-alih menampilkan semua studi dalam urutan kronologis dengan kepingan dan potongan informasi yang tidak beraturan. Survei literatur yang baik juga,membawa seseorang secara logis pada pernyataan masalah yang baik.
PERUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah adalah merupakan pertanyaan penelitian, sehagai panduan bagi peneliti untuk menentukan teori yang akan dipakai, perumusan hipotesis, pengembangan instrumen, dan teknik statistik untuk analisis data.(Sugiyono 2013: 52).
Perumusan masalah adalah konteks dari penelitian, alasan mengapa penelitian diperlukan, dan petunjuk yang mengarahkan tujuan penelitian (Evans, 1997: 63). Beberapa karakteristik perumusan masalah yang baik adalah sebagai berikut:
1.Pada umumnya menunjukkan variabel yang menarik peneliti dan hubungan deskriptif, di mana permasalahan diungkapkan dalam suatu pertanyaan yang harus dijawab. Namun arti penting penelitian tetap pada hubungan antarvariabel. Perkecualian dalam hal ini adalah dalam metode penelitian deskriptif, di mana permasalahan mungkin merupakan suatu pertanyaan yang sederhana untuk dijawab. Namun, penelitian deskriptif juga akan lebih berarti apabila memperhatikan pertalian yang ada antara variabel yang diteliti.
2.Menyusun definisi dari semua variabel yang relevan, baik secara langsung maupun operasional. Definisi operasional ini harus jelas dan spesifik sehingga tidak menimbulkan berbagai macam penafsiran yang berbeda, yang pada akhirnya akan "mengganggu" pelaksanaan penelitian. Arti operasional adalah penjelasan dalam terminologi operasional atau proses.
PERUMUSAN MASALAH
Perumusan masalah harus disertai dengan latar belakang masalah. Latar belakang masalah adalah segala informasi yang diperlukan untuk memahami perumusan masalah yang disusun oleh peneliti. Dengan kata lain, latar belakang masalah merupakan informasi yang diperlukan untuk mengerti permasalahan yang ada. Dengan penyajian latar belakang masalah, pemahaman permasalahan penelitian menjadi lebih jelas. Perumusan masalah ini merupakan komponen yang pertama, baik dalam proposal maupun dalam laporan penelitian. Oleh karena itu, pernyataan masalah memberikan arah terhadap penelitian yang dilakukan.
Bentuk-bentuk Rumusan Masalah Penelitian
A.Rumusan deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel mandiri adalah variabel yang berdiri sendiri, bukan variabel independen, karena kalau variable independen selalu dipasangkan dengan variabel dependen). Jadi dalam penelitian ini peneliti tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel yang lain, dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel yang lain. Penelitian semacam ini untuk selanjutnya dinamakan penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang populer dalam bidang bisnis (Emory, 1985).
Contoh rumusan masalah Deskriptif (yang dicetak miring adalah variabel penelitian):
1) Seberapa tinggi produktivitas kerja karyawan di PT. Samudra?
2) Seberapa baik interaksi kerja karyawan di industri A?
3) Seberapa tinggi jumlah barang yang terjual, dan keuntungan PT. Petani (dua variabel).
Bentuk-bentuk Rumusan Masalah Penelitian
B.Rumusan masalah komparatif adalah suatu pertanyaan penelitian yang bersifat membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda. Contoh Rumusan masalahnya:
Adakah perbedaan produktivitas kerja antara Pegawai Negeri, BUMN dan Swasta? (satu variabel pada 3 sampel).
Adakah perbedaan, kemampuan dan disiplin kerja antara pegawai Swasta Nasional, dan Perusahaan asing (dua variabel, pada dua sampel)?
Adakah perbedaan daya tahan berdiri pelayan toko yang berasal dan kota dan desa, gunung (satu variabel pada 3 sampel)?
Bentuk-bentuk Rumusan Masalah Penelitian
C.Rumusan masalah asosiatif adalah suatu pertanyaan penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Seperti telah dikemukakan, terdapat tiga bentuk hubungan yaitu: hubungan simetris, hubungan kausal, dan interaktif / reciprocal / timbal balik.
1) Hubungan Simetris
Hubungan simetris adalah suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang kebetulan munculnya bersama. Jadi bukan hubungan kausal maupun interaktif, contoh sebagai berikut:
ØHubungan antara banyaknya radio di pedesaan dengan jumlah sepatu yang terjual
ØHubungan antara tinggi badan dengan prestasi kerja di bidang pemasaran
ØHubungan antara es yang terjual dengan tingkat kejahatan.
Rumusan masalah asosiatif lanjutan
2) Hubungan Kausal
Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Jadi disini ada variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan dependen (dipengaruhi), contoh:
ØPengaruh insentif terhadap disiplin kerja karyawan di departemen X.
ØPengaruh gaya kepemimpinan dan tata ruang kantor terhadap efisiensi kerja di PT. Samudra, contoh pertama dengan satu variabel independen dan contoh kedua dengan dua variabel independen.
3) Hubungan Interaktif / Resiprocal / Timbal balik
Hubungan interaktif atau resiprocal adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Di sini tidak diketahui mana variabel independen dan dependen, contoh:
ØHubungan antara motivasi dan prestasi. Di sini dapat dinyatakan motivasi mempengaruhi prestasi dan juga prestasi mempengaruhi motivasi.
ØHubungan antara kecerdasan dengan kekayaan. Kecerdasan dapat menyebabkan kaya, demikian juga orang yang kaya dapat meningkatkan kecerdasan karena gizi terpenuhi.
ØHubungan antara iklan dengan nilai penjualan. Makin banyak biaya yang dikeluarkan untuk iklan maka akan semakin banyak penjualan. Demikian juga semakin banyak penjualan, maka akan semakin banyak biaya yang disediakan untuk iklan.
Bentuk-bentuk Rumusan Masalah Penelitian
Ø
Ilustrasi
1.Sebuah thesis S2 tentang "Lokasi Kawasan dan Daya Saing Ekowisata di Provinsi Bali, 2004-2005", merumuskan masalah dengan pertanyaan sebagai berikut (Pramana, 2005):
ØDi manakah lokasi utama objek wisata di Provinsi Bali;
ØApakah objek wisata di Provinsi Bali dapat diklasifikasikan ke dalam ekowisata dart nonekowisata dengan sejumlah variabel;
ØBagaimanakah daya saing objek ekowisata di Provinsi Bali?
ØSebuah thesis S2 tentang "Analisis Return Saham dan Kinerja Perusahaan Multinasional: Bursa Efek Jakarta, Januari 1998-Desember 2002", merumuskan masalah dengan pertanyaan sebagai berikut (Prakarsa, 2003)
2.Sebuah thesis S2 tentang "Analisis Return Saham dan Kinerja Perusahaan Multinasional: Bursa Efek Jakarta, Januari 1998-Desember 2002", merumuskan masalah dengan pertanyaan sebagai berikut (Prakarsa, 2003):
ØBagaimana kinerja saham-saham MNC jika dibandingkan dengan saham-saham domestik?
ØBagaimana kinerja MNC jika dibandingkan perusahaan domestik?
ØSeberapa besar pengaruh faktor internal perusahaan dan indikator ekonomi yang dipilih (SBI, IHSG, kurs USD dan pasar dunia-MSCI) terhadap return kedua kelompok saham (MNC dan domestik)?
3.Sebuah disertasi S3 tentang "Permasalahan Agency Dalam Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Syariah Di Indonesia", merumuskan masalah dengan pertanyaan sebagai berikut (Muhamad, 2006: 8):
ØAtribut proyek apa yang dipertimbangkan oleh shabibul mal dalam melakukan kontrak pembiayaan mudharabah di bank syariah?
ØAtribut mudharib apa yang dipertimbangkan oleh shabibul mal dalam melakukan kontrak pembiayaan mudharabah di bank syariah?
ØBagaimana penyeleksian atribut proyek secara efektif dapat mengurangi timbulnya masalah agency dalam kontrak pembiayaan mudharabah?
ØBagaimana mekanisme penyeleksian atribut mudharib secara efektif dapat mengurangi timbulnya masalah agency dalam kontrak pembiayaan mudharabah?
Ø
Perumusan Masalah dan Tinjauan Pustaka
Metedologi Penelitian Pertemuan Ke 4
Proses Penelitian Kuantitatif
Proses Penelitian Kuantitatif
Gambar 2.1 dapat dijelasankan sebagai berikut. Setiap penelitian selalu berangkat dan masalah, namun masalah yang dibawa peneliti kuantitatif dan kualitatif berbeda. Dalam penelitian kuantitatif, masalah harus sudah jelas, sedangkan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti memasuki lapangan.
Setelah masalah diidentifikasikan, dan di batasi, maka selanjutnya masalah tersebut dirumuskan. Rumusan masalah pada umumnya dinyatakan dalam kalimat pertanyaan. Dengan pertanyaan ini maka akan dapat memandu peneliti untuk kegiatan penelitian selanjutnya. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka peneliti menggunakan berbagai teori untuk menjawabnya. Jadi teori dalam penelitian kuantitatif ini digunakan untuk menjawab rumusan masalah penelitian tersebut. Jawaban terhadap rumusan masalah yang baru menggunakan teori tersebut dinamakan hipotesis, maka hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian.
Proses Penelitian Kuantitatif
Hipotesis yang masih merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah tersebut, selanjutnya akan dibuktikan kebenarannya secara empiris berdasarkan data dari lapangan. Untuk itu peneliti melakukan pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan pada populasi tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti. Bila populasi terlalu luas, sedangkan peneliti memiliki keterbatasan waktu, dana dan tenaga, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut. Bila peneliti bermaksud membuat generalisasi, maka sampel yang diambil harus representatif, dengan teknik random sampling.
Meneliti adalah mencari data yang teliti/akurat. Untuk itu peneliti perlu menggunakan instrumen penelitian. Dalam ilmu-ilmu dan, teknik, dan ilmu-ilmu empirik lainnya, instrumen penelitian seperti termometer untuk mengukur suhu, timbangan untuk mengukur berat semuanya sudah ada, sehingga tidak perlu membuat instrumen. Tetapi dalam penelitian sosial seperti pendidikan, sering instrumen yang akan digunakan untuk meneliti belum ada, sehingga peneliti harus membuat atau mengembangkan sendiri. Agar instrumen dapat dipercaya, maka harus diuji validitas dan reliabilitasnya.
Proses Penelitian Kuantitatif
Setelah instrumen teruji validitas dan reliabilitasnya, maka dapat digunakan untuk mengukur variabel yang telah ditetapkan untuk diteliti. Instrumen untuk pengumpulan data dapat berbentuk test dan nontest. Untuk instrumen yang berbentuk nontest, dapat digunakan sebagai kuesioner, pedoman observasi dan wawancara. Dengan demikian teknik pengumpulan data selain berupa test dalam penelitian ini dapat berupa kuesioner, observasi dan wawancara.
Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis. Analisis diarahkan untuk menjawab rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan. Dalam penelitian kuantitatif analisis data menggunakan statistik. Statistik yang digunakan dapat berupa statistik deskriptif dan inferensial / induktif. Statistik inferensial dapat berupa statistik  parametris dan statistik nonparametris. Peneliti menggunakan statistik inferensial bila penelitian dilakukan pada sampel yang diambil secara random.
Proses Penelitian Kuantitatif
Data hasil analisis selanjutnya disajikan dan diberikan pembahasan. Penyajian data dapat mengunakan tabel, tabel distribusi frekuensi, grafik garis, grafik batang, piechart (diagram lingkaran), dan pictogram. Pembahasan terhadap hasil penelitian merupakan penjelasan yang mendalam dan interprestasi terhadap data-data yang telah disajikan.
Setelah hasil penelitian diberikan pembahasan, maka selanjutnya dapat disimpulkan. Kesimpulan berisi jawaban singkat terhadap setiap rumusan masalah berdasarkan data yang telah terkumpul. Jadi kalau rumusan masalah ada lima, maka kesimpulannya juga ada lima. Karena peneliti melakukan penelitian bertujuan untuk memecahkan masalah, maka peneliti berkewajiban untuk memberikan saran-saran. Melalui saran-saran tersebut diharapkan masalah dapat dipecahkan. Saran yang diberikan harus berdasarkan kesimpulan hasil penelitian. Jadi jangan membuat saran yang tidak berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan. Apabila hipotesis penelitian yang diajukan tidak terbukti, maka perlu dicek apakah ada yang salah dalam penggunaan teori, instrumen, pengumpulan, analisis data, atau rumusan masalah yang diajukan.
PERUMUSAN MASALAH DAN TINJAUAN PUSTAKA
Ada tiga langkah awal dalam proses penelitian, yaitu: identifikasi bidang masalah (topik), pencarian data awal melalui studi pustaka (survei literatur), dan perumusan masalah secara jelas dan tepat.
SELEKSI TOPIK DAN MASALAH
Setelah topik permasalahan diketahui, permasalahan secara spesifik perlu dipilih untuk penelitian lebih lanjut. Sumber utama dalam pemilihan permasalahan ini adalah teori, studi empiris sebelumnya, dan pengalaman peneliti. Permasalahan yang baik mempunyai beberapa karakteristik tertentu. Pernyataan permasalahan yang baik juga memenuhi beberapa kriteria tertentu.
Identifikasi Topik Penelitian
Bagi peneliti pemula, seleksi topik penelitian merupakan tahap yang paling sulit untuk dilakukan. Topik yang dipilih sering kali sudah diteliti oleh peneliti lain, atau terlalu sederhana, sehingga tidak perlu diangkat sebagai Permasalahan dalam penelitian. Beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam seleksi topik penelitian adalah:
üApakah ada permasalahan?
üApakah masalah tersebut dapat dipecahkan melalui penelitian?
üApakah masalah tersebut menarik untuk dipecahkan?
üApakah masalah tersebut bermanfaat untuk dipecahkan?
Pada umumnya identifikasi masalah dilakukan dari permasalahan umum yang berhubungan dengan keahlian yang dipunyai dan menarik untuk dipecahkan. Kemudian dari permasalahan umum yang telah ditentukan, diambil suatu  permasalahan yang lebih spesifik dan lebih memungkinkan untuk diteliti. Dengan demikian, dari permasalahan yang bersifat umum tersebut akan diambil (atau ditentukan) suatu permasalahan yang spesifik.
Sumber Permasalahan
Ada dua sumber permasalahan yang dapat digunakan untuk penelitian. Pertama, literatur atau bahan bacaan yang berhubungan dengan minat dan pengetahuan peneliti. Dari bahan bacaan ini peneliti dapat memperoleh Permasalahan yang menarik minat perhatiannya, dapat dipecahkan melalui penelitian, dan bermanfaat untuk dipecahkan. Di samping bahan bacaan, pengalaman (pribadi) juga akan merupakan sumber permasalahan yang cukup banyak. Semakin banyak pengalaman seseorang, baik peneliti maupun manajer, akan semakin banyak permasalahan yang didapatkannya untuk suatu penelitian.
Karakteristik Permasalahan Penelitian
Karakteristik yang pertama adalah permasalahan tersebut dapat diselidiki melalui pengumpulan dan analisis data. Karakteristik yang kedua adalah mempunyai arti penting dari latar belakang teori maupun praktik.
Permasalahan yang baik, sebenarnya adalah permasalahan yang dirasakan baik oleh peneliti, dalam arti empat macam hal berikut. Pertama, peneliti mempunyai keahlian dalam bidang tersebut. Kedua, tingkat kemampuan peneliti memang sesuai dengan tingkat kemampuan yang diperlukan untuk memecahkan permasalahan yang ada. Ketiga, peneliti mempunyai sumber daya yang diperlukan. Keempat, peneliti telah mempertimbangkan kendala waktu, dana, dan berbagai kendala yang lain dalam pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan.
Identifikasi Masalah
Proses identifikasi masalah adalah apabila manajemen mengetahui dan menyadari bahwa telah atau akan terjadi situasi yang tidak diinginkan. Beberapa situasi bisa terlihat dengan jelas, misalnya, pemogokan karyawan, tingginya tingkat perputaran karyawan, penurunan jumlah produksi dan sebagainya, namun beberapa yang lain hanya terlihat secara samar.
Untuk melakukan penelitian diperlukan pengenalan masalah terutama masalah yang terlihat samar dan sulit untuk diidentifikasi. ldentifikasi permasalahan yang diturunkan dari teori membawa beberapa keuntungan, yaitu:
1. Peneliti sudah mempelajari teori aplikasinya yang terkait untuk menjawab persoalan yang ada.
2. Formulas/ hipotesis pada umumnya akan menjadi lebih mudah dan jelas, karena mempunyai hubungan yang erat dengan teori.
3. Hasil penelitian akan memberikan kontribusi terhadap teori yang dijadikan dasar untuk perumusan masalah.dasar untuk perumusan masalah.
Identifikasi Masalah
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan permasalahan penelitian adalah:
1.Kegunaan Penelitian : Aspek yang penting dalam pemilihan masalah penelitian adalah kegunaan penelitian. Setiap ada permasalahan, pertanyaan pertama adalah manfaat yang diperoleh dari penelitian. Kalau ada, penelitian hanya dilakukan untuk penyelesaian masalah yang mempunyai manfaat lebih besar daripada biayanya.
2.Prioritas : Banyak permasalahan yang memerlukan penelitian serta mempunyai kegunaan penelitian yang jelas dalam perusahaan. Namun demikian, tidak semua dari permasalahan tersebut diangkat sebagai permasalahan penelitian. Manajemen menyusun daftar prioritas, sehingga dapat diketahui permasalahan yang mana yang akan diteliti terlebih dahulu.
Identifikasi Masalah
3.Kendala Waktu dan Dana : Erat hubungannya dengan prioritas yang disusun oleh manajer adalah kendala waktu dan dana.
4.Dapat Diselidiki : Ada dua hal dalam hubungannya dengan dapat dan tidaknya suatu permasalahan untuk diselidiki. Hal ini bisa terjadi karena masalah tersebut secara teoretis tidak dapat diselidiki, atau belum terdapat teori dasar untuk menyelidiki. Kedua, permasalahan tersebut secara teoretis dapat diselidiki, namun karena pertimbangan tertentu tidak diizinkan untuk diselidiki oleh aparat yang berwenang.
5.Kemampuan Peneliti : Apabila peneliti tertarik kepada suatu masalah, masih terdapat beberapa hal lain yang perlu untuk dipertimbangkan, yaitu:
ØKendala waktu dan anggaran
ØTersedianya data yang diperlukan
ØTingkat keahlian peneliti.
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka, atau survei literatur, merupakan langkah penting di dalam penelitian. Langkah ini meliputi identifikasi, lokasi, dan analisis dari dokumen yang berisi informasi yang berhubungan dengan permasalahan penelitian secara sistematis. Dokumen ini meliputi jurnal, abstrak, tinjauan, buku, data statistik, dan laporan penelitian yang relevan.
Tujuan utama dari tinjauan pustaka ini adalah untuk melihat apa saja yang pernah dilakukan sehubungan dengan masalah yang diteliti. Selain menghindarkan dari duplikasi penelitian, tinjauan pustaka juga dapat menghasilkan pengertian dan pandangan yang lebih jauh tentang permasalahan yang diteliti. Melalui langkah ini penyusunan hipotesis juga lebih baik karena pemahaman permasalahan yang diteliti akan lebih mendalam.
TINJAUAN PUSTAKA
Survei literatur memastikan bahwa:
1.Variabel penting yang kemungkinan besar memengaruhi situasi masalah tidak terlewatkan dalam studi.
2.Gagasan yang lebih jelas akan muncul, misalnya variabel apa yang paling penting untuk dipertimbangkan (sifat hemat), mengapa variabel tersebut dianggap penting, dan bagaimana variabel diinvestigasi untuk memecahkan masalah.,Dengan demikian, survei literatur membantu penyusunan kerangka teoretis dan hipotesis untuk pengujian.
3.Pernyataan masalah dapat dibuat dengan tepat dan jelas.
4.Sifat dapat diuji
5.Peneliti tidak memboroskan usaha dengan mencoba menemukan kembali sesuatu yang sudah diketahui.
TINJAUAN PUSTAKA
Tiga yang dapat dipertimbangkan sebagai masukan untuk menentukan tinjauan pustaka.
1.Semakin banyak tinjauan pustaka tidak selalu berarti semakin baik. Tinjauan pustaka yang sedikit namun terorganisasi dengan rapi dan terkait erat dengan penelitian yang dilakukan adalah lebih baik dari pada tinjauan pustaka yang banyak namun tidak terarah dan tidak berhubungan dengan penelitian yang dilakukan. Tinjauan pustaka lebih baik terfokus kepada bidang penelitian yang akan dilakukan.
2.Bidang penelitian yang telah sering dilakukan memerlukan fokus yang lebih terpusat daripada area baru di mana penelitian masih jarang dilakukan. Oleh karena itu, peneliti yang melakukan penelitian pada bidang yang telah sering dilakukan penelitian perlu membatasi pada bidang yang lebih sempit namun sangat mendalam.
3.Sebaliknya apabila penelitian yang dilakukan adalah pada bidang yang belum atau masih jarang dilakukan penelitian, pembatasan fokus menjadi agak lebar. Kelebaran tinjauan pustaka akan membantu dalam penyusunan kerangka analisis untuk studi yang bersifat eksploratif dan dapat memperoleh bahan penyusunan hipotesis yang lebih rasional.
Sumber Pustaka
Pada umumnya terdapat banyak sumber pustaka yang dapat dipergu-nakan dalam penelitian. Buku teks, ensiklopedi, jurnal, dan berbagai macam artikel tentang bisnis dan ekonomi lazim dipergunakan oleh para peneliti. Abstraksi penelitian yang telah dilakukan juga merupakan sumber yang balk. Beberapa data yang berhubungan dengan perkembangan bisnis yangberupa informasi statistik dapat diperoleh melalui berbagai lembaga, baik lembaga pemerintahan, universitas, asosiasi perusahaan, maupun media massa.
Menulis Tinjauan Literatur
Dokumentasi studi relevan yang mengutip penulis dan tahun studi disebut sebagai tinjauan literatur atau survei literatur. Survei literatur merupakan penyajian yang jelas dan logis mengenai karya penelitian yang relevan yang dilakukan sejauh ini dalam bidang investigasi. Dokumentasi semacam itu adalah penting untuk meyakinkan pembaca bahwa (1) peneliti menguasai persoalan dan telah melakukan pekerjaan rumah pendahuluan yang diperlukan untuk mengadakan penelitian, dan (2) kerangka teoretis akan disusun di atas penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dan akan berkontribusi pada dasar pengetahuan yang yang telah ada sebelumnya. 
Perlu dicatat bahwa survei literatur hendaknya menampilkan semua informasi yang relevan dengan meyakinkan dan logis, alih-alih menampilkan semua studi dalam urutan kronologis dengan kepingan dan potongan informasi yang tidak beraturan. Survei literatur yang baik juga,membawa seseorang secara logis pada pernyataan masalah yang baik.
PERUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah adalah merupakan pertanyaan penelitian, sehagai panduan bagi peneliti untuk menentukan teori yang akan dipakai, perumusan hipotesis, pengembangan instrumen, dan teknik statistik untuk analisis data.(Sugiyono 2013: 52).
Perumusan masalah adalah konteks dari penelitian, alasan mengapa penelitian diperlukan, dan petunjuk yang mengarahkan tujuan penelitian (Evans, 1997: 63). Beberapa karakteristik perumusan masalah yang baik adalah sebagai berikut:
1.Pada umumnya menunjukkan variabel yang menarik peneliti dan hubungan deskriptif, di mana permasalahan diungkapkan dalam suatu pertanyaan yang harus dijawab. Namun arti penting penelitian tetap pada hubungan antarvariabel. Perkecualian dalam hal ini adalah dalam metode penelitian deskriptif, di mana permasalahan mungkin merupakan suatu pertanyaan yang sederhana untuk dijawab. Namun, penelitian deskriptif juga akan lebih berarti apabila memperhatikan pertalian yang ada antara variabel yang diteliti.
2.Menyusun definisi dari semua variabel yang relevan, baik secara langsung maupun operasional. Definisi operasional ini harus jelas dan spesifik sehingga tidak menimbulkan berbagai macam penafsiran yang berbeda, yang pada akhirnya akan "mengganggu" pelaksanaan penelitian. Arti operasional adalah penjelasan dalam terminologi operasional atau proses.
PERUMUSAN MASALAH
Perumusan masalah harus disertai dengan latar belakang masalah. Latar belakang masalah adalah segala informasi yang diperlukan untuk memahami perumusan masalah yang disusun oleh peneliti. Dengan kata lain, latar belakang masalah merupakan informasi yang diperlukan untuk mengerti permasalahan yang ada. Dengan penyajian latar belakang masalah, pemahaman permasalahan penelitian menjadi lebih jelas. Perumusan masalah ini merupakan komponen yang pertama, baik dalam proposal maupun dalam laporan penelitian. Oleh karena itu, pernyataan masalah memberikan arah terhadap penelitian yang dilakukan.
Bentuk-bentuk Rumusan Masalah Penelitian
A.Rumusan deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel mandiri adalah variabel yang berdiri sendiri, bukan variabel independen, karena kalau variable independen selalu dipasangkan dengan variabel dependen). Jadi dalam penelitian ini peneliti tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel yang lain, dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel yang lain. Penelitian semacam ini untuk selanjutnya dinamakan penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang populer dalam bidang bisnis (Emory, 1985).
Contoh rumusan masalah Deskriptif (yang dicetak miring adalah variabel penelitian):
1) Seberapa tinggi produktivitas kerja karyawan di PT. Samudra?
2) Seberapa baik interaksi kerja karyawan di industri A?
3) Seberapa tinggi jumlah barang yang terjual, dan keuntungan PT. Petani (dua variabel).
Bentuk-bentuk Rumusan Masalah Penelitian
B.Rumusan masalah komparatif adalah suatu pertanyaan penelitian yang bersifat membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda. Contoh Rumusan masalahnya:
Adakah perbedaan produktivitas kerja antara Pegawai Negeri, BUMN dan Swasta? (satu variabel pada 3 sampel).
Adakah perbedaan, kemampuan dan disiplin kerja antara pegawai Swasta Nasional, dan Perusahaan asing (dua variabel, pada dua sampel)?
Adakah perbedaan daya tahan berdiri pelayan toko yang berasal dan kota dan desa, gunung (satu variabel pada 3 sampel)?
Bentuk-bentuk Rumusan Masalah Penelitian
C.Rumusan masalah asosiatif adalah suatu pertanyaan penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Seperti telah dikemukakan, terdapat tiga bentuk hubungan yaitu: hubungan simetris, hubungan kausal, dan interaktif / reciprocal / timbal balik.
1) Hubungan Simetris
Hubungan simetris adalah suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang kebetulan munculnya bersama. Jadi bukan hubungan kausal maupun interaktif, contoh sebagai berikut:
ØHubungan antara banyaknya radio di pedesaan dengan jumlah sepatu yang terjual
ØHubungan antara tinggi badan dengan prestasi kerja di bidang pemasaran
ØHubungan antara es yang terjual dengan tingkat kejahatan.
Rumusan masalah asosiatif lanjutan
2) Hubungan Kausal
Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Jadi disini ada variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan dependen (dipengaruhi), contoh:
ØPengaruh insentif terhadap disiplin kerja karyawan di departemen X.
ØPengaruh gaya kepemimpinan dan tata ruang kantor terhadap efisiensi kerja di PT. Samudra, contoh pertama dengan satu variabel independen dan contoh kedua dengan dua variabel independen.
3) Hubungan Interaktif / Resiprocal / Timbal balik
Hubungan interaktif atau resiprocal adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Di sini tidak diketahui mana variabel independen dan dependen, contoh:
ØHubungan antara motivasi dan prestasi. Di sini dapat dinyatakan motivasi mempengaruhi prestasi dan juga prestasi mempengaruhi motivasi.
ØHubungan antara kecerdasan dengan kekayaan. Kecerdasan dapat menyebabkan kaya, demikian juga orang yang kaya dapat meningkatkan kecerdasan karena gizi terpenuhi.
ØHubungan antara iklan dengan nilai penjualan. Makin banyak biaya yang dikeluarkan untuk iklan maka akan semakin banyak penjualan. Demikian juga semakin banyak penjualan, maka akan semakin banyak biaya yang disediakan untuk iklan.
Bentuk-bentuk Rumusan Masalah Penelitian
Ø
Ilustrasi
1.Sebuah thesis S2 tentang "Lokasi Kawasan dan Daya Saing Ekowisata di Provinsi Bali, 2004-2005", merumuskan masalah dengan pertanyaan sebagai berikut (Pramana, 2005):
ØDi manakah lokasi utama objek wisata di Provinsi Bali;
ØApakah objek wisata di Provinsi Bali dapat diklasifikasikan ke dalam ekowisata dart nonekowisata dengan sejumlah variabel;
ØBagaimanakah daya saing objek ekowisata di Provinsi Bali?
ØSebuah thesis S2 tentang "Analisis Return Saham dan Kinerja Perusahaan Multinasional: Bursa Efek Jakarta, Januari 1998-Desember 2002", merumuskan masalah dengan pertanyaan sebagai berikut (Prakarsa, 2003)
2.Sebuah thesis S2 tentang "Analisis Return Saham dan Kinerja Perusahaan Multinasional: Bursa Efek Jakarta, Januari 1998-Desember 2002", merumuskan masalah dengan pertanyaan sebagai berikut (Prakarsa, 2003):
ØBagaimana kinerja saham-saham MNC jika dibandingkan dengan saham-saham domestik?
ØBagaimana kinerja MNC jika dibandingkan perusahaan domestik?
ØSeberapa besar pengaruh faktor internal perusahaan dan indikator ekonomi yang dipilih (SBI, IHSG, kurs USD dan pasar dunia-MSCI) terhadap return kedua kelompok saham (MNC dan domestik)?
3.Sebuah disertasi S3 tentang "Permasalahan Agency Dalam Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Syariah Di Indonesia", merumuskan masalah dengan pertanyaan sebagai berikut (Muhamad, 2006: 8):
ØAtribut proyek apa yang dipertimbangkan oleh shabibul mal dalam melakukan kontrak pembiayaan mudharabah di bank syariah?
ØAtribut mudharib apa yang dipertimbangkan oleh shabibul mal dalam melakukan kontrak pembiayaan mudharabah di bank syariah?
ØBagaimana penyeleksian atribut proyek secara efektif dapat mengurangi timbulnya masalah agency dalam kontrak pembiayaan mudharabah?
ØBagaimana mekanisme penyeleksian atribut mudharib secara efektif dapat mengurangi timbulnya masalah agency dalam kontrak pembiayaan mudharabah?
Ø

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH WAHABI

MAKALAH KE-NU-AN