MAKALAH WAHABI


MAKALAH
Ke – NU – an
ALIRAN WAHABI
Dosen Pengampu : A. Junaidi Musthofa, S.Pd.I., M.Pd.I

logo-None-stienu-trate-gresik-dd9f2159.jpg
Disusun oleh :
Aisyatul Fatimah (101160669)
Aziz Kukuh Indriawan ( 101160657)
M. Zamroni Firmansyah (201160301)
Nur Sakinah (201160302)
Yeni Ari Anggreni (101160662)

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI NU
TERATE – GRESIK
2019


DAFTAR ISI

COVER ............................................................................................................................. 1
DAFTAR ISI ..................................................................................................................... 2
KATA PENGANTAR ..................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 4
  1.1 Latar Belakang ............................................................................................................ 4
  1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................................... 4
  1.3 Tujuan ......................................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN................................................................................................... 5
  2.1 sejarah ......................................................................................................................... 5
  2.2 Wahabisme di Indonesia ............................................................................................. 6
  2.3 Penentang Wahabi ...................................................................................................... 7
  2.4 Penghancuran situs ajaran islam .................................................................................. 8
  2.5 Ajaran Aqidah Wahabi ............................................................................................... 9
  2.6 Pendapat Tentang Wahabi ........................................................................................ 11
  2.7 Bahaya Wahabi Salafi Bagi Umat Islam .................................................................. 12
BAB III PENUTUP ........................................................................................................ 13
  3.1 Kesimpulan ............................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 14



KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
 Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Demikian, semoga makalah ini dapat member manfaat bagi pembaca. Terima kasih.


                                                                              

                                                                                           Gresik, 30 April 2019                    



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Akhir-akhir ini marak perkembangan gerakan “keagamaan” yang disebut dengan gerakan salafy. Sering mereka mengklain mereka hadir bermaksud menghidupkan kembali ajaran ulama salafy untuk menyalamatkan umat dari amukan dan badai fitnah yang melanda islam hari ini. Tidak jarang juga mereka mengklain bahwa golongan yang semangat yang dinubuatkan oleh Nabi SAW adalah golongan mereka.

Tentu saja,  konsekuensi dari klain ini adalah menafikan kelompok yang lain. Artinya bahwa kelompok mereka yang benar selainnya adalah sesat (itsbat asy-syai yunafi maa adahu). Kalau kita mau berkaca pada sejarah, gerakan salafy ini sebenarnya bukan gerakan baru. Mereka bermetamorfosis dari gerakan pemurnian ajaran islam wahaby yang dikerangka konsep pemikirannya oleh Ibn Taimiyah yang kemudian dibesarkan oleh muridnya Muahamd bin abdulwahab, menjadi gerakan salafy. Metamorfosis ini jelas untuk memperkenalkan ajaran usang dengan pendekatan dan aliran baru yaitu wahabisme.

1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana sejarah wahabi?
2. Bagaimana pemikiran atau ajaran wahabi?
1.3 TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah ke- NU an serta untuk menambah pengetahuan bagi penulis khusunya dan bagi para pembaca dan umunya. Selain itu makalah ini juga bertujuan memberikan informasi kepada para pembaca agar mengetahui siapakah aliran wahaby, setelah membaca makalah ini diharapkan para pembaca tidak terjerumus kepada aliran wahaby yang menyimpang.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 SEJARAH
Wahabi lebih tepatnya Wahhabisme (Arab: وهابية, Wahhābiyah) atau Salafi adalah sebuah aliran reformasi keagamaan dalam Islam. Aliran ini berkembang dari dakwah seorang teolog Muslim abad ke-18 yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab yang berasal dari NajdArab Saudi.Aliran ini digambarkan sebagai sebuah aliran Islam yang "ultrakonservatif", "keras", atau "puritan";
Pendukung aliran ini percaya bahwa gerakan mereka adalah "gerakan reformasi" Islam untuk kembali kepada "ajaran monoteisme murni", kembali kepada ajaran Islam sesungguhnya, yang hanya berdasarkan kepada Qur'an dan Hadis, bersih dari segala "ketidakmurnian" seperti praktik-praktik yang mereka anggap bid'ahsyirik dan khurafat.Sementara penentang ajaran ini menyebut Wahhabi sebagai "gerakan sektarian yang menyimpang", "sekte keji" dan sebuah distorsi ajaran Islam.
Saat ini Wahhabisme merupakan aliran Islam yang dominan di Arab Saudi dan Qatar. Ia dapat berkembang di dunia Islam melalui pendanaan masjid, sekolah dan program sosial. Dakwah utama Wahhabisme adalah Tauhid yaitu Keesaan dan Kesatuan Allah. Ibnu Abdul Wahhab dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Ibnu Taymiyyah dan mempertanyakan interpretasi Islam dengan mengandalkan Alquran dan hadits. Ia mengincar "kemerosotan moral yang dirasakan dan kelemahan politik" di Semenanjung Arab dan mengutuk penyembahan berhala, pengkultusan orang-orang suci, pemujaan kuburan orang yang saleh, dan melarang menjadikan kuburan sebagai tempat beribadah.
Gerakan Wahhabi dimulai sebagai gerakan revivalis di wilayah terpencil nan gersang di Najd. Dengan runtuhnya Kesultanan Utsmaniyah setelah Perang Dunia I, dinasti Al Saudmenjadi penyokong utama Wahhabisme, dan menyebar ke kota-kota suci Mekkah dan Madinah. Setelah penemuan minyak di dekat Teluk Persia pada tahun 1939, Kerajaan Saudi memiliki akses terhadap pendapatan ekspor minyak, pendapatan yang tumbuh hingga miliaran dollar. Uang ini - digunakan untuk menyebarkan dakwah wahhabi melalui buku, media, sekolah, universitas, masjid, beasiswa, beasiswa, pekerjaan bagi para jurnalis, akademisi dan ilmuwan Islam - hal ini memberikan Wahhabisme sebuah "posisi kekuatan yang unggul" dalam Dunia Islam global.
Menurut seorang penulis berkebangsaan Saudi, Abdul Aziz Qasim dan yang lainnya, yang pertama kali memberikan julukan Wahabi kepada dakwah ibnu Abdul Wahhab adalah Kesultanan Utsmaniyah, kemudian bangsa Inggris mengadopsi dan menggunakannya di Timur Tengah.
Wahabi tidak menyukai istilah yang disematkan oleh beberapa kalangan tersebut kepada mereka dan menolak penyematan nama individu, termasuk menggunakan nama seseorang untuk menamai aliran mereka. Mereka menamakan diri dengan nama Salafi dan gerakannya dengan Salafiyah.
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata: “Penisbatan (Wahhabi) tersebut tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Semestinya kalaupun harus ada faham baru yang dibawa oleh Al-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bentuk penisbatannya adalah ‘Muhammadiyyah’, karena sang pengemban dan pelaku dakwah tersebut adalah Muhammad, bukan ayahnya yang bernama Abdul Wahhab.”
Istilah "Wahabi" dan "Salafi" (serta Ahli Hadits yaitu orang-orang hadits) sering digunakan secara bergantian, tetapi Wahabi juga telah disebut sebagai "orientasi tertentu dalam Salafisme", yang dianggap ultra-konservatif.Namun dapat disimpulkan, Wahabi merupakan gerakan Islam sunni yang bertujuan untuk memurnikan ajaran Islam dari ajaran-ajaran atau praktik-praktik yang dianggap menyimpang seperti: syirik, ilmu hitam, penyembahan berhala, bid'ah dan khurafat.
2.2 WAHABISME DI INDONESIA
Paham wahhabi masuk pertama kali ke Indonesia pada awal abad ke-19. Hubungan antara ajaran kaum Wahabi dengan orang-orang Minangkabau di Sumatra Barat dimulai melalui kepulangan tiga orang haji; Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang, yang baru pulang ibadah haji pada 1803. Perjalanan haji mereka bersamaan dengan dikuasainya Mekkah oleh kaum Wahhabi. Pengaruh itu terlihat dari penentangan terhadap praktik yang dianggap bid'ah, penggunaan tembakau baik untuk sirih pinang atau merokok, dan pemakaian baju sutra. Mereka usahakan pula untuk menyebarkan ajaran ini secara paksa di wilayah Minangkabau. Seperti kemudian tercatat dalam sejarah, ketiga haji itu dan sosok Tuanku Nan Renceh - didukung kaum Paderi - memaklumkan jihad melawan kaum Muslim lain yang tidak mau mengikuti ajaran-ajaran mereka. Lawan mereka terutama adalah golongan Adat, yakni kaum bangsawan Minang yang masih menjalankan praktik-praktik yang mereka anggap bertentangan dengan Islam. Akibatnya, perang saudara yang disebut sebagai Perang Paderi pecah di tengah masyarakat Minangkabau. Atas campur tangan pemerintah kolonial Belanda, perang Paderi itu berakhir pada penghujung 1830-an.
Dalam kaitannya terhadap penentangan terhadap takhayul, Sukarno disebutkan pernah memuji gerakan ini. Dalam salah satu tulisannya, Presiden Soekarno menyatakan pandangannya terhadap Wahabisme "Tjobalah pembatja renungkan sebentar "padang-pasir" dan "wahabisme" itu. Kita mengetahui djasa Wahabisme jang terbesar: ia punja kemurnian, ia punja keaslian, - murni dan asli sebagai udara padang- pasir, kembali kepada asal, kembali kepada Allah dan Nabi, kembali kepada islam dizamanja Muhammad!" Kembali kepada kemurnian, tatkala Islam belum dihinggapi kekotorannya seribu satu tahajul dan seribu satu bid'ah. Lemparkanlah djauh-djauh tahajul dan bid'ah itu, tjahkanlah segala barang sesuatu jang membawa kemusjrikan!" — Ir. Soekarno, "Dibawah Bendera Revolusi" (Kumpulan tulisan dan pidato-pidato) jilid pertama, cetakan kedua, tahun 1963. halaman 390.
Organisasi Sunni terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama, menentang wahhabisme, serta menyebutnya sebagai gerakan fanatik dan paham bid'ah dalam tradisi Sunni

2.3 PENENTANG WAHABI
·         Penentang Awal
Orang pertama yang menentang Muhammad bin Abdul Wahhab adalah ayahnya sendiri, Abdul Wahhab, dan saudaranya Salman bin Abdul Wahhab yang adalah seorang cendekiawan dan qadi terkemuka. Saudara laki-laki Ibn Abd al-Wahhab menulis sebuah buku untuk menolak ajaran baru saudaranya, yang disebut: "Kata Akhir dari Al Qur'an, Hadis, dan Ucapan cendekiawan tentang aliran Ibn 'Abd al-Wahhab" juga dikenal sebagai: "Al-Sawa`iq al-Ilahiyya fi Madhhab al-Wahhabiyya" ("Halilintar Ilahi mengenai Aliran Wahhabi").
Dalam bukunya "Sanggahan terhadap Wahhabisme dalam Sumber Arab, 1745–1932", Hamadi Redissi memberikan referensi asli tentang deskripsi Wahhabi sebagai sekte yang memecah belah (firqa) dan asing (Khawarij), dalam komunikasi antara ulama Usmani dan Khedive Muhammad Ali. Redissi merinci sanggahan terhadap Wahhabi oleh para cendekiawan (mufti); di antaranya Ahmed Barakat Tandatawin, yang pada tahun 1743 menyebut Wahhabisme sebagai suatu bentuk kebodohan (Jahili atau kejahilan).
·         Tentangan Syi'ah
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/91/Baghi_tomb.jpg/260px-Baghi_tomb.jpg
Makam Al-Baqi' yang dipercaya sebagai makam Hasan bin Ali (cucu Muhammad) dan Fatimah (putri Muhammad), dihancurkan oleh wahhabi pada 1926.
Pada tahun 1801 dan 1802, golongan Wahhabi Saudi di bawah Abdul-Aziz bin Muhammad menyerang dan merebut kota suci SyiahKarbala dan Najaf di Irak, dan menghancurkan makam Husain bin Ali, cucu Muhammad, dan Ali bin Abu Thalib, menantu Muhammad. Pada tahun 1803 dan 1804 orang-orang Saudi merebut Makkah dan Madinah dan menghancurkan berbagai makam Ahlul Bait dan para Sahabat, monumen kuno, situs dan reruntuhan Islam. Menurut Wahhabi, mereka "menghapus sejumlah dari apa yang mereka pandang sebagai sumber atau gerbang menuju perbuatan syirik - seperti makam Fatimah, putri Muhammad. Pada tahun 1998 orang Saudi membuldozer dan menuangkan bensin ke atas makam Aminah binti Wahab, ibunda Muhammad. Hal ini menuai kemarahan di seluruh Dunia Islam

·         Tentangan Sunni
Wahhabisme telah dikritik keras oleh banyak kalangan Muslim Sunni arus utama dan terus dikecam oleh banyak cendekiawan Sunni terkemuka tradisional karena dianggap bid'ah, "sesat dan mendorong tindakan kekerasan" dalam Islam Sunni. Di antara organisasi Sunni tradisional dunia yang menentang ideologi Wahhabi adalah Al-Azhar di Kairo, anggota fakultasnya yang secara konsisten mencela Wahhabisme dengan istilah seperti "ajaran setan." Mengenai Wahhabisme, cendekiawan dan intelektual Sunni Al-Azhar yang terkenal, Muhammad Abu Zahra berkata: "Wahhabi melebih-lebihkan (dan merusak) pernyataan Ibnu Taimiyah ... Kaum Wahhabi tidak menahan diri hanya melakukan dakwah penyebaran agama, tapi secara memaksa juga melakukan penghinaan terhadap siapapun yang tidak setuju dengan mereka dengan alasan bahwa mereka melawan bid`ah, dan perbuatan bid'ah adalah kejahatan yang harus diperangi ... Kapanpun mereka bisa merebut kota, mereka akan datang ke makam dan mengubahnya menjadi reruntuhan dan kehancuran... Kebrutalan mereka tidak berhenti di situ, tapi juga muncul ke kuburan siapa pun dan menghancurkannya juga. Dan ketika penguasa daerah Hijaz menyerah kepada mereka, mereka menghancurkan semua kuburan para Sahabat dan membakarnya sampai rata dengan tanah... Sebenarnya, telah diketahui bahwa Ulama kaum Wahhabi menganggap pendapat mereka sendiri benar dan tidak mungkin salah, sementara mereka menganggap pendapat orang lain salah dan tidak mungkin benar. Lebih dari itu, mereka menganggap apa orang lain lakukan; mendirikan makam dan mengelilinginya, sebagai perbuatan yang mendekati penyembahan berhala... Dalam hal ini perbuatan mereka sangat dekat dengan kaum Khawarij, yang biasa menyatakan orang-orang yang tidak setuju dengan mereka sebagai murtad dan memerangi mereka seperti yang telah kita sebutkan."
2.4 Penghancuran situs bersejarah Islam
Ajaran Wahhabi menentang "pemuliaan terhadap situs-situs bersejarah yang terkait dengan awal ajaran Islam", dengan alasan bahwa "hanya Allah yang patut disembah" dan "penghormatan terhadap situs-situs yang terkait dengan manusia menyebabkan "syirik" .
Akan tetapi, kritikus menunjukkan bahwa sesungguhnya dalam ziarah kubur, tidak ada Muslim yang memuja bangunan atau makam tersebut, dan melakukan perbuatan syirik. Orang-orang Muslim yang menziarahi makam Ahlul Bait atau Sahabat masih berdoa kepada Allah semata sambil mengingat sahabat dan keluarga Nabi. Banyak bangunan yang terkait dengan sejarah Islam awal, termasuk berbagai makam seperti Makam Al-Baqi dan artefak lainnya di Arab Saudi, telah dihancurkan oleh kaum wahhabi sejak awal abad-19 sampai kini. Praktik penghancuran makam yang kontroversial ini telah menuai banyak kritikan dari Muslim Sunni lain, golongan Sufi, Syi'ah, serta dunia internasional.
Ironisnya, meski wahhabi menghancurkan banyak situs Islam, situs non-Islam, dan situs bersejarah terkait Muslim awal; keluarga keluarga Nabi dan Sahabat Nabi, serta menerapkan larangan keras untuk menziarahi situs-situs tersebut, pemerintah Saudi malah merenovasi makam Muhammad ibn Abd al-Wahhab dan mengubah tempat kelahirannya menjadi tempat ziarah utama di kerajaan Saudi.

2.5 Ajaran Aqidah Wahabi
 Ajaran aqidah Wahabi yang berasal dari pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab, didasarkan pada definisi tauhid yang terbagi dalam tiga.3:
1.      Tauhid rububiyyah bahwa hanya Allah yang memiliki sifat rabb, penguasa dan pencipta dunia, Allah yang menghidupkan dan mematikan.

2.      Tauhid asma wa sifat bahwa nama dan sifat Allah yang benar terdapat dalam Al-Quran tanpa disertai upaya untuk menafsirkan dan tidak boleh menerapkan nama dan sifat Allah itu kepada siapa pun selain Allah.

3.      Tauhid al-ibadah bahwa seluruh ibadah ditujukan hanya kepada Allah dan tidak diperbolehkan mengikuti ajaran ibadah yang tidak dicontohkan Rasulullah saw.
 Wahabi dalam aqidah meyakini bahwa Allah memiliki raga (jism), sifat-sifat Allah sama dengan sifat-sifat manusia (tasybih) seperti duduk di Arasy (tahta) dan turun ke langit dunia. Ulama-ulama Wahabi berkeyakinan bahwa Allah telah menciptakan manusia seperti bentuk dan rupa-Nya sendiri, sama besar dan sama tinggi dengan Nabi Adam as, yaitu 60 hasta. Berkaitan dengan Wahabiyah ini, seorang ulama Wahabi bernama Barbahari Al-Hanbali dalam kitab Syarhu As-Sunnah5 (halaman 106) menyatakan bahwa:
 “Sesungguhnya orang yang menghalalkan sesuatu tetapi berbeda dengan apa yang ada dalam kitab ini (kitab as-sunnah) maka dia tidak beragama dengan agama Allah. Sungguh Allah telah menolak semua (ibadah)nya darinya. Sama seperti seorang hamba yang beriman dengan firman Allah, tetapi dia ragu dengan salah satu hurufnya, maka dia sungguh telah menolak semua firman Allah dan telah kafir.”
  Ajaran (mazhab) Wahabi melarang orang-orang Islam membuat bangunan di atas kuburan, melarang orang meminta kepada kuburan Nabi atau sahabat atau ulama, melarang tawasul dan ziarah, melarang peringatan Maulid Nabi dan peringatan Islam lainnya (seperti isra mi’raj, hijrah, nisfu sya’ban, tahlilan, asyura, haul, dan tujuh bulanan). Kaum Wahabi lebih mengutamakan hadis ketimbang penjelasan Al-Quran kecuali kalau arti lahiriah ayatnya mendukung ajaran-ajarannya dan tidak mengakui ijma (kesepakatan ulama) yang telah disetujui para ulama sebelumnya. Ulama Wahabi juga mengharamkan seorang pelajar Islam mempelajari filsafat, ilmu kalam, ilmu tasawuf, ilmu-ilmu sosial, dan sains modern. Mereka memisahkan ilmu agama dengan ilmu dunia serta tidak mementingkan sains dan teknologi untuk dikembangkan. Ulama Wahabi terkenal, yaitu Abdul Karim bin Shalih Al-Hamid dalam kitab Hidayah Al-Hairan fi Mas’alati Ad-Dauran menyebutkan bahwa bumi yang ditempati manusia tidak berputar karena Allah selalu turun ke langit bumi ini setiap sepertiga malam terakhir, menanti doa hamba-hamba-Nya. Ibnu Shalig Al-Hamid mengatakan, “Keyakinan bumi berputar jauh lebih berbahaya dari keyakinan manusia berasal dari kera Semua dalil dari AlQuran dan Sunah tentang bumi itu berputar adalah takwilan yang sesat.” Mungkin sudah menjadi karakter kalau pengikut Wahabi dalam urusan keagamaan dan dakwah mudah mengeluarkan pernyataan yang membuat gerah orang-orang Islam yang bermazhab Syiah, Sunni, dan pengikut tarekat  sufi. Pengikut aqidah Wahabi menyebut bid’ah, kafir, dan musyrik terhadap orang-orang Islam yang menjalankan agama dan ibadah-ibadah yang berbeda dengan keyakinan Wahabi. Meski tidak mengakui taqlid (mengikuti ulama), ulama-ulama Wahabi dalam menjelaskan agama mengambil rujukan dari Ibnu Taimiyyah dalam masalah aqidah dan Ahmad bin Hanbal dalam fikih serta merujuk hadis-hadis Bukhari dan Muslim.
Ulama-ulama ternama dari Wahabi yang banyak dijadikan rujukan oleh pengikut Wahabi adalah Ibnu Baz (Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz), Muhammad bin Shalih Utsaimin, Ibnu Khuzaimah, Shalih bin Fauzan, dan Nashiruddin Al-Bani. Ajaran-ajaran berupa pendapat dari Muhammad bin Abdul Wahab kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku kecil berjudul Kitab At-Tauhid.  Orang-orang yang beramal dan mengikuti kitab tersebut kemudian dikenal pengikut Muhammad bin Abdul Wahab, yang populer disebut Wahabiyah. Dalam menyebarkan mazhabnya, kaum Wahabi ini tidak segan-segan menggunakan cara yang keras. Ketika memasuki kota Tha`if pada 1924, mereka menjarah warga dan menyeret para hakim agama (qadi), bahkan membunuhnya. Mereka juga sempat meratakan kuburan Rasulullah saw, menghancurkan kuburan para sahabat, dan kuburan ulama-ulama. Gerakan penyebaran Wahabi di Arab Saudi termasuk berhasil karena didukung pihak kerajaan Arab Saudi, bahkan menjadi mazhab resmi. Ajaran Wahabi ini mendapat kritik dari keluarga Abdul Wahab, khususnya dari Sulaiman bin Abdul Wahab (kakak Muhammad bin Abdul Wahab) dalam buku As-Shawaa’iqul illahiyyah.
 Muncul pula kritik dari ulama-ulama Sunni yang menunjukkan lemahnya ajaran-ajaran Wahabiyah. Di antara ulama yang mengritik ajaran Wahabi adalah Abdullah bin Lathif Syafii dalam kitab Tajrid Syaiful Al-Jihad lil Mudda’i Al-Ijtihad, Afifuddin Abdullah bin Dawud Hanbali dalam kitab As-Sawa’iq wa Al-Ruduud, Muhammad bin Abdurrahman bin Afalik Hanbali dalam kitab Tahkamu Al-Muqalladin biman Ad’i Tajdidi Ad-Diin, dan Ahmad bin Ali bin Luqbaani Basri bersama Syaikh Atha’Allah Makki dalam kitab Al-Aarimul alHindi fi Unuqil Najdi. Ulama Syiah pun mengkritik pemikiran Wahabi. Salah satunya adalah Ayatullah Ja’far Kasyif Al-Qittha memberikan kritik terhadap ajaran-ajaran Muhammad bin Abdul Wahabi dalam kitab Minhajjul Rissyadi Liman AraadasSadad. Aliran Wahabi ini dianggap “menodai” ajaran Islam karena dalam dakwah tidak menggunakan pendekatan santun dan anti budaya. Sejarah mengisahkan gerakan Wahabi ini penuh dengan noda darah dan permusuhan dengan umat Islam pengikut Syiah, Sunni, dan kaum Sufi. Tentang kaum Wahabi dan ajaran-ajaran Wahabi sudah diuraikan dengan cukup lengkap oleh Syaikh Idahram dalam tiga buku: Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, Mereka Memalsukan Kitab-kitab Karya Ulama Klasik, dan Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi.


2.6 PENDAPAT TENTANG WAHABI
Sebanarnya para tokoh dan pengikut wahabi enggan kelompoknya disebut gerakan wahabi, karenanya mereka menyebut dirinya dengan sebutan ‘salafi’. Sehingga para pengamat, tokoh dan kelompok di luar mereka menyebut mereka dengan Gerakan Wahabi Salafi.
Selama ini Gerakan Wahabi Salafi lebih dikenal dengan ideologi takfiri yakni ideologi mengkafirkan, mem-bid’ah-kan, dan men-syirik-kan sesama muslim. Ini dibuktikan dengan fakta dilapangan dan diberbagai media bagaimana para tokoh-tokohnya (baca = ustadz) dan para pengikutnya yang sangat mudah mengeluarkan kata-kata dan tuduhan kafir, bid’ah bahkan syirik kepada kelompok Islam lainnya yang tidak sepaham dengan mereka.
Maklum, mereka adalah gerakan yang mengklaim dirinya sebagai gerakan pemurnian akidah (tauhid) dan mengikuti langkah ulama terdahulu atau ulama salaf. Karena itu gerakan ini disebut dengan berbagai nama seperti Wahhabi merujuk pada nama pendirinya Muhammad bin Abdul Wahhab, Ahli Tauhid dan Salafi atau Wahabi Salafi. Di dunia Arab, mereka lebih sering disebut dengan istilah harakatul Wahhabiyah As-Saudiyah (حركة الوهابية السعودية) atau gerakan Wahabi Arab Saudi karena memang didirikan dan berpusat di Arab Saudi.
Banyak ulama non-Wahabi yang memberi nilai negatif pada gerakan ini. Tidak mengherankan, karena gerakan ini tidak memiliki sikap kompromi dan tidak pernah menilai positif kecuali kepada dirinya sendiri. Dan banyak label kurang sedap dialamatkan pada gerakan yang pendanaan penyebarannya didukung penuh oleh kerajaan Arab Saudi ini. Sebutan itu antara lain seperti “gerakan militan”, gerakan ekstrim, ideologi teroris, neo-Khawarij sampai gerakan sesat.
Berikut beberapa pendapat ulama Sunni non-Wahhabi kontemporer terhadap Wahabi Salafi:
1.      Dr. Ali Jumah, mufti Mesir mengatakan bahwa Wahabi Salafi adalah gerakan militan dan teror. [1]
2.      Dr. Ahmad Tayyib, Syekh al-Azhar mengatakan bahwa Wahabi tidak pantas menyebut dirinya salafi karena mereka tidak berpijak pada manhaj salaf.[2]
3.      Dr. Yusuf Qardawi, intelektual Islam produktif dan ahli fiqh terkenal asal Mesir, mengatakan bahwa Wahabi adalah gerakan fanatik buta yang menganggap dirinya paling benar tanpa salah dan menganggap yang lain selalu salah tanpa ada kebenaran sedikitpun.[3] Gerakan Wahabi di Ghaza, menurut Qardawi, lebih suka memerangi dam membunuh sesama muslim daripada membunuh Yahudi.[4]
4.      Dr. Wahbah Az-Zuhayli (وهبة الزحيلي), mufti Suriah dan ahli fiqh produktif, menulis magnum opus ensiklopedi fiqh 14 jilid berjudul Al Muwsuatul Fiqhi al-Islami (الموسوعة الفقه الإسلامي ) . Az-Zuhayli mengatakan seputar Wahabi Salafi (yang mengafirkan Jama’ah Tabligh): “mereka [Wahabi] adalah orang-orang yang suka mengkafirkan mayoritas muslim selain dirinya sendiri.”[5]
5.      KH. Agil Siradj, ketua PBNU, mengatakan dalam berbagai kesempatan melalui artikel yang ditulisnya, wawancara tv, dan seminar bahwa terorisme modern berakal dari ideologi Wahabi.[6]
6.      Syekh Hisyam Kabbani, ketua tariqah Naqshabandi dunia, mengatakan bahwa Wahabi Salafi adalah gerakan neo-Khawarij.[7] Yaitu aliran keras yang menghalalkan darah sesama muslim dan terlibat dalam pembunuhan khalifah ke-3 Utsman bin Affan.
7.      Syekh Muhammad Al-Ghazali, ulama berpengaruh Mesir, termasuk salah satu pengeritik paling keras gerakan Wahabi. Dalam kitabnya yang berjudul “Al Wahhabiyah Tusyawwihul Islam wa Tuakhirul Muslim” (Wahabi menistakan Islam dan membuat muslim terbelakang) Al-Ghazali menuangkan sejumlah kritikan pada Wahabi baik yang ditulis oleh dirinya sendiri maupun yang dikutip dari ulama dan intelektual Mesir yang lain.
Al-Ghazali antara lain menyatakan: Agama yang diserukan oleh sekelompok suku Baduwi ini (maksudnya Muhammad bin Abdul Wahab) adalah agama lain yang berbeda dengan agama Islam yang kita ketahui dan kita muliakan.
2.7 Bahaya Gerakan Wahabi Salafi Bagi Umat Islam

DR. Ahmad Abdur Rohim As-Sayih dalam bukunya Khatrul Wahabiyah alal Ummatil Islamiyahmenulis bahwa sejumlah fatwa dan ideologi Wahabi merupakan penghinaan terhadap Islam dengan mengkafirkan pengikut madzhab Islam yang lain dan meremehkan pendapat para ulama besar yang bertentangan dengan pendapat pendiri madzhab Wahabi Muhammad bin Abdul Wahab. Apa yang terkandung dari pendapat mereka menunjukkan bahwa Wahabi adalah bentuk baru dari gerakan Khawarij yang muncul pada awal Islam.
Mufti Mazhab Syafi’i dan ketua dewan pengajar di Makkah pada masa Sultan Abdul Hamid, Syekh Zaini Dahlan, dalam bukunya yang berjudul Addurar as-Saniyah fir Raddi alal Wahabiyah menyatakan pada halaman 46: “Muhammad bin Abdul Wahab berkata: ‘Saya mengajak kalian pada Tauhid dan meninggalkan syirik pada Allah. Dan semua hal yang berada di bawah lapis langit yang tujuh adalah musyrik secara mutlak. Siapa yang membunuh seorang musyrik maka ia masuk surga”
Muhammad bin Abdul Wahab dan golongan Wahabinya menghakimi muslim lain sebagai kafir dan menghalalkan darah dan harta mereka.


BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
1.      olongan Wahabi adalah pengikut Muhammad Bin Abdul Wahhab,sebuah gerakan separatis yang muncul pada masa pemerintahan Sultan Salim III(1204-1222H).Gerakan ini berkedok memurnikan tauhid dan menjauhkan umat manusia dari kemusyrikan .Muhammad bin Abdul Wahhab para pengikutnya menganggap bahwa selama 600 tahun umat manusia dalam kemusrykan dan dia datang sebagai mujaddid yang memperbaharui agama mereka.Gerakan Wahabi muncul melawan kemampuan umat islam salam masalah akidah dan syariah,karenanya gerakan ini tersebar dengan peperangan dan pertumpahan darah.
2.      Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman Bin Ali Bin Muhammad Bin  Ahmad bin Rasyid at Tamimi lahir pada tahun 1115 H di pedesaan al-Uyainah yang terletak di sebelah utara kota Riyadl.Meninggal dunia pada tahun 1206 H.pertama kali dia menyebarkan ajarannya di daerah Huraimalan,banyak mendapatkan tantangan dari masyarakat sekitar.
3.      Wahabiyah telah menyimpang dari jalur umat islam dengan mengkafirkan orang yang beristighasah kepada Rasulullah dan bertawasul dengannya setelah wafat.Mereka berkata: “Bertawasul dengan selain yang hidup dan yang hadir (ada dihadapan kita)adalah kufur”.Atas dasar kaidah ini mereka mengkafirkan orang yang berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah tawasul ini dan menghalalkan membunuhnya.Pemimpin mereka Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Barangsiapa yang masuk dalam dakwah kita maka ia mendapatkan hak sebagaimana hak-hak kita dan memiliki kewajiban sebagaimana kewajiban-kewajiban kita dan barangsiapa yang tidak masuk(dalam dakwah kita)maka ia kafir dan halah darahnya.
4.      Secara garis besar setidaknya ada dua gerakan yakni salafi Yamani dan salafi Haraki. Selain istilah salafi yamani dan salafi haraki ada istilah-istilah lain seperti salafi sururi,salafi jihadi,salafi wahda islamiyah,salafi turatsi,salafi ghuraba,salafi ikhwani,salafi turaby dan sebagainya.



DAFTAR PUSTAKA

Dahlan,Syech Ahmad Zain. fitnah al Wahabiyah.Bandung:all irsyad,2005

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH KE-NU-AN