MAKALAH KE-NU-AN


MAKALAH
Ke – NU – an
Aqidah Menurut Imam Asyaridiyah dan Imam Maturidiyah
Dosen Pengampu : A. Junaidi Musthofa, S.Pd.I., M.Pd.I

logo-None-stienu-trate-gresik-dd9f2159.jpg
Disusun oleh :
Aisyatul Fatimah (101160669)
Aziz Kukuh Indriawan ( 101160657)
M. Zamroni Firmansyah (201160301)
Nur Sakinah (201160302)
Yeni Ari Anggreni (101160662)

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI NU
TERATE – GRESIK
2019


KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
 Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Demikian, semoga makalah ini dapat member manfaat bagi pembaca. Terima kasih.


                                                                              

                                                                                           Gresik, 28 Maret 2019


BAB I
PENDAHULUAN

Munculnya pemikiran dalam Islam telah memberikan warna tersendiri dalam agama Islam. Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya berbagai golongan dengan segala pemikiranya. Diantaranya adalah faktor politik sebagaimana yang telah terjadi pertentangan antara kelompok Ali dengan pengikut Muawiyah, sehingga memunculkan golongan yang baru yaitu golongan khawarij. Lalu munculah golongan-golongan lain sebagai reaksi dari golongan satu pada golongan yang lain.

Golongan tersebut mempunyai pemikiran yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Ada yang masih menganut Al-Qur’an dan sunnah, akan tetapi ada juga yang menyimpang dari kedua sumber ajaran Islam tersebut. Ada yang berpegang pada wahyu, dan ada pula yang menempatkan akal yang berlebihan sehingga keluar dari wahyu.

Sebagai reaksi dari firqah yang sesat, maka pada akhir abad ke 3 H timbullah golongan yang dikenali sebagai Ahlussunnah wal Jamaah yang dipimpin oleh 2 orang ulama besar dalam Usuluddin yaitu Syeikh Abu Hassan Ali Al Asy’ari yang merupakan pendiri aliran Asy’ari dan Syeikh Abu Mansur Al Maturidi sebagai pendiri aliran Maturidiyah. Aliran Asy’ariah dan Maturidiyah inilah yang dipakai dalam pembahasan ini.






1.1 SEJARAH
Ø  Munculnya Paham Asy’riyah
Aliran Asy'ariyah adalah aliran teologi Islam yang lahir pada dasawarsa kedua abad ke-10 (awal abad ke-4). Pengikut aliran ini, bersama pengikut Maturudiyah dan Salafiyah, mangaku termasuk golongan ahlus sunnah wal jama’ah. Aliran asy’ariyah dibangun oleh Abu Hasan Ali ibn Ismail Al-Asy’ari ( 873-935M ). Pada mulanya, Al-Asy’ari adalah seorang tokoh Mu’tazilah. Karena itulah, menurut Al-Askari, Al-Juba’i berani mempercayakan perdebatan dengan lawan kepada Al-Asy’ari. Ini merupakan indikasi bahwa Al-Asy’ari  sebagai salah seorang pengikut Mutazilah yang tangguh.
Namun, karena sebab-sebab yang tidak begitu jelas, Al-Asy’ari, walaupun telah puluhan tahun menganut paham Mu’tazilah, ia akhirnya meninggalkan ajaran tersebut. Menurut Ibnu Asakir, Al-Asy’ari meninggalkan mu’tazilah karena ia bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad yang mengatakan bahwa mazhab Mu’tazilah itu sesat sedangkan mazhab Ahl Al-Hadits benar.Pendapat lain menyebutkan bahwa Al-Asy’ari berdebat dengan gurunya, Al-Jubba’i, seputar orang mukmin, orang kafir, dan anak kecil. Dalam perdebatan itu, sang guru tidak menjawab pertanyaan murid.
Terlepas dari sebab-sebab diatas, yang jelas ajaran Asy’ariyah  ini muncul sebagai alternatif yang menggantikan kedudukan ajaran Mu’tazilah yang sudah hilang pamornya pasca penghapusannya oleh Al-Mutawakkil sebagai mazhab negara. Ini menunjukkan bahwa aliran Asy’ariyah muncul karena kondisi yang menuntut demikian.
Selain oleh Al-Asy’ari, aliran Asy-a’riyah ini dikembangkan pula oleh murid-muridnya seperti Muhammad Thayyib bin Muhammad Abu Bakr Al-Baqillani, Abd Al-Malik Al-Juwani (419-478 H), Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali (450-505 H), dan Alauddin Al-‘Ijji (w. 756 H).
Sebagai sebuah aliran teologi, Asy’ariyah mempunyai ajaran-ajaran yang banyak diikuti masyarakat, khususnya yang cenderung mengikutinya. Ajaran-ajaran tersebut dapat diketahui dari buku yang ditulis Al-Asy’ari sendiri dan para muridnya
Bagaimanapun juga banyak analisa orang dikemukakan tentang alasan keluarnya al-Asy'ari dari Mu’tazilah dan dalam suatu perdebatan tidak mendapat jawaban yang memuaskan baginya, sehingga menimbulkan keraguan. Harus pula diakui bahwa saat itu golongan Mu’tazilah sedang berada dalam masa kemunduran. Demikian pula pertentangan paham sesama kaum muslimin seperti tak akan bisa teratasi. Al-Asy'ari, sebagai seorang ulama yang gairah akan keselamatan dan keutuhan Islam serta kaum muslimin, ia sangat khawatir perbedaan dan pertentangan pendapat pada waktu itu, akan menyeret ke dalam situasi yang tak diinginkan. Oleh sebab itu perlu segera adanya pedoman yang dapat jadi pegangan umat. Faktor-faktor inilah yang lebih dekat kepada kemungkinan, mengapa al-Asy'ari keluar dari Mu’tazilah, di mana kemudian membentuk aliran teologi baru.

v  LATAR BELAKANG AL- Asyari Keluar Dari Mu’tazilah

Nama lengkap Al-Asy’ari ialah Abu al-Hasan ‘Alî ibn Ismail ibn Abu Basyar Ishaq ibn Salim ibn Ismail ibn Abdillah ibn Musâ ibn Bilal ibn Abi Burdah ‘Amir ibn Abû Musâ al-Asy’ari. Lahir di Basrah pada 260 H/875 M. Ketika berusia lebih dari 40 Tahun, ia hijrah ke kota Baghdad dan wafat di sana pada tahun /324 H/935 M. Abu al-Hasan al-Asy'ari pada mulanya belajar membaca, menulis dan menghafal al-qur’an dalam asuhan orang tuanya, yang kebetulan meninggal dunia ketika ia masih kecil. Selanjutnya dia belajar kepada ulama Hadis, Fiqh, Tafsir dan bahasa antara lain kepada al-Saji, Abu Khalifah al-Jumhi, Sahal Ibn Nuh, Muhammad Ibn Ya'kub, ‘Abd al-Rahman Ibn Khalf dan lain-lain. Demikian juga ia belajar Fiqih Syafi'i kepada seorang faqih: Abu Ishaq al-Maruzi (w.340 H./951 M.)-seorang tokoh Mu’tazilah di Bashrah.
Sampai umur 40 tahun ia selalu bersama Abu ‘Ali al-Jubbai, serta ikut berpartisipasi dalam mempertahankan ajaran-ajaran Mu’tazilah. Al-Asy’arî adalah murid dan belajar ilmu kalam dari seorang tokoh Mu’tazilah, yaitu Abu ‘Ali al-Jubbai, malah Ibn ‘Asakir mengatakan bahwa al-Asy’ari belajar dan terus bersama gurunya itu, selama 40 tahun, sehingga al-Asy’ari pun termasuk tokoh Mu’tazilah. Dan karena kepintaran serta kemahirannya, ia sering mewakili gurunya itu dalam berdiskusi. Namun pada perkembangan selanjutnya, al- Asy’ari menjauhkan diri dari pemikiran Mu’tazilah dan selanjutnya condong kepada pemikiran para fuqaha’ dan ahli hadis. Ahmad Amin dalam Zuhr al-Islâm menyebutkan bahwa mazhab al-Asy’ari itu adalah mazhab Mu’tazilah yang telah ia adakan penyesuaian-penyesuaian pada berbagai persoalan, dan ia berhasil manarik pengikut yang banyak serta sangat sukses melahirkan mazhab baru.
Keberhasilan al-Asy’ari yang cemerlang dan cepat dalam menarik pengikut, tidak lain karena pada saat itu Mu’tazilah sedang dijauhi dan tidak disukai orang, akibat tindakan mihnah yang dilakukan penguasa yang berpihak kepada Mu’tazilah. Disamping itu, al-Asy’ari sendiri merupakan seorang yang berwawasan luas, berpandangan teliti, dan sekaligus penulis yang baik sekaligus produktif. Kedua karyanya al-Ibanah ‘an Usul al-Diyanah dan al-Luma’ fi al-Rad ‘ala Ahl al-Zaigh wa al-Bida’ membuktikan keterampilan tersebut. Lalu, mengapa al-Asy’ari meninggalkan gurunya dan paham Mu’tazilah, serta membentuk paham dan mazhab baru? Para pengkaji berbeda persepsi memberi interpretasi tentang faktor apa yang melatarbelakangi Asy’ari meninggalkan Mu’tazilah dan membangun mazhab baru. Ibn ‘Asakir menceritakan bahwa pada suatu malam al-Asy’ari bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw., lalu Nabi menyuruhnya meninggalkan paham Mu’tazilah, dan supaya ia membela sunnahnya.
Awal peristiwa ini, bermula ketika al-Asy’ari bertanya kepada gurunya waktu belajar. Jawaban sang guru tidak tidak memuaskan al-Asy’ari, sehingga ia menjadi ragu-ragu dan ingin mencari kepuasan. Versi lain diceritakan bahwa, hal yang mendorong al-Asy’ari meninggalkan Mu’tazilah dan mengkaji ulang alasan-alasan mereka, sehingga beliau membuktikan kesesatan mereka ialah, al-Asy’ari bermimpi bertemu Rasulullah pada malam awal kesepuluh bulan ramadhan, dan berulang pada pertengahannya, dan malam sepuluh terakhir dari bulan ramadhan dan Rasulullah berkata kepada beliau “Hai ‘Ali bantulah sunnah yang disandarkan kepadaku karena itulah kebenaran yang hakiki”. Al-Subki dan Ibnu Khalkan menukilkan bahwa dalam rangka mempersiapkan diri untuk menjawab pemikiran aliran Mu’tazilah, al-Asy’ari untuk sementara mengurung diri di rumahnya selama 15 hari, merenung dan mencoba membanding- bandingkan dalil-dalil kedua kelompok aliran yang bertentangan (Mu’tazilah dan ulama Sunni).
 Kemudian ia keluar menemui masyarakat dan mengundang mereka untuk berkumpul. Selanjutnya, pada suatu hari jumat di Bashrah ia naik mimbar dan berkata,”Barang siapa yang telah mengenalku, maka sebenarnya dia telah mengenalku. Dan barang siapa yang belum mengenalku, maka kini saya memperkenalkan diri. Saya adalah fulan ibnu fulan. Saya pernah mengatakan bahwa Alquran adalah makhluk, bahwa Allah tidak terlihat oleh indra penglihatan kelak pada hari kiamat, dan abhwa perbuatan-perbuatan saya yang tidak baik, saya sendirilah yang melakukannya. Kini saya bertobat dari pendapat seperti itu, serta siap sedia untuk menolak pendapat Mu’tazilah, dan mengungkap kelemahan mereka. Selama beberapa hari ini saya telah menghilang dari hadapan anda sekalian, karena saya sedang berpikir. Menurut pendapat saya, dalil-dalil kedua kelompok itu seimbang. Kemudian saya memohon petunjuk kepada Allah, maka Allah memberikan petunjuk kepada saya untuk meyakini apa yang tertera dalam kitab-kitab saya. Saya akan melepaskan apa yang pernah saya percayai, sebagaimana saya menanggalkan baju ini”.
            Namun suatu hal yang unik, menurut Hamzah Harun, ketika kita membaca karya Jalal Musa. Dia menuduh Ibnu Asakir memalsukan riwayat di atas, bahkan dia mengklaim bahwa Ibnu Khalikkan dan al-Subki menukil riwayat itu dari dia. Salah satu alasan pemalsuan itu, karena Ibnu Asakir mengatakan bahwa buku-buku yang disuguhkan Asy’ari kepada orang di mesjid saat itu diantaranya: kitab al-Luma’, Kasyf al-Asrar wa Hatk al- Atsar. Sementara dua buku yang dimaksud menurut Jalal tidak masuk akal kalau ditulis hanya dalam tempo 15 hari dan ditulis oleh Asy’ari sementara masih me nganut mazhab Mu’tazilah. Karena itu berarti Asy’ari tidak komitmen terhadap aqidahnya dimana meyakini suatu mazhab dan mengarang buku tentang mazhab lain. Lebih lanjut dia mengukuhkan persepsinya itu bahwa kitab al-Luma’ bukan karangan Asy’ari dalam priode transisi tapi seperti yang diyakini orang, menurut Jalal buku itu ditulisnya pada masa kematangannya, bahkan yang masyhur bahwa buku al-Luma’ itu buku karangan Asy’ari yang paling terakhir bukan al- Ibanah seperti yang diasumsikan orang. Bukan hanya itu, Jalal Musa juga meragukan kebenaran peristiwa telanjangnya Asy’ari di depan orang pada hari Jum’at di atas mimbar sebagai bukti Asy’ari meninggalkan faham-faham Mu’tazilah. Dia juga tidak melihat adanya tendensi tertentu di balik isolasi diri Asy’ari selama masa yang tidak lama itu.
Disamping itu, menurut al-Syahrastani, perdebatan-perdebatan dan dialog yang sering terjadi antara Asy’ari dengan gurunya tidak bisa dilepas dalam rangka menginterpretasi sebab peralihannya itu. Perdebatan-perdebatan itu tercatat di berbagai sumber dan referensi menyebabkan sikap pro-kontra di kalangan para ilmuan. Salah satu perdebatan yang digelar dan sangat populer adalah perdebatannya menyoroti masalah kebaikan (al-salah wa aslah).  Dalam riwayat ibnu Khalkan, dialog tersebut berlangsung sebagai berikut:
Al-Asy'ari : Bagaimana pendapat tuan tentang nasib tiga orang bersaudara setelah wafat; yang tua mati dalam bertaqwa; yang kedua mati kafir; dan yang ketiga mati dalam keadaan masih kecil.
 Al-Jubba'i : yang taqwa mendapat terbaik; yang kafir masuk neraka; dan yang kecil selamat dari bahaya neraka.
Al-Asy'ari : Kalau yang kecil ingin mendapatkan tempat yang lebih baik di Sorga, mungkinkah?
 Al-Jubba'i : Tidak, karena tempat itu hanya dapat dicapai dengan jalan ibadat dan kepatuhan kepada Tuhan. Adapun anak kecil belum mempunyai ibadat dan kepatuhan kepada-Nya.
 Al-Asy'ari : Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan: itu bukan salahku. Sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup, aku akan mengerjakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh yang taqwa itu.
Al-Jubba'i : Allah akan menjawab kepada anak kecil itu, Aku tahu, jika engkau terus hidup, engkau akan berbuat maksiat dan engkau akan mendapat siksa; maka Saya (Allah) matikan engkau adalah untuk kemaslahatanmu.
Al-Asy'ari : Sekiranya saudaranya yang kafir mengatakan, "Ya Tuhanku Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa depannya, mengapa Engkau tidak jaga kepentinganku?.
Al-Jubba'i menjawab,"Engkau gila, (dalam riwayat lain dikatakan, bahwa AlJubba'i hanya terdiam dan tidak menjawab).
 Mengomentari hal ini, Ibnul ’Imad al-Hanbali berkata: “perdebatan ini menunjukkan bahwa Allahmemberikan rahmat-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan menimpakan az|ab bagi siapa saja yang Dia kehendaki.”
            Bagi Mu’tazilah, si anak kecil tentu tidak akan mengajukan protes kepada Allah, karena dia sendiri tahu, bahwa sesuai dengan keadilan Tuhan, tempat yang cocok untuknya memang di sana. Kalau Tuhan menempatkan anak kecil sederajat dengan tempat orang yang taqwa, tentu dia sendiri akan merasakan bahwa Tuhan sudah tidak adil lagi terhadap dirinya.
 Sebab, tempatnya memang bukanlah seharusnya sederajat dengan orang-orang yang taqwa. Di alam akhirat, menurut Mu’tazilah, tidak ada lagi perdebatan tentang keadilan Tuhan. Di sana, manusia sudah mendapati al-Wa'ad wa al-Wa'id. Dia sudah menepati janji. Yang taqwa mendapat sorga, yang kafir mendapat neraka, dan jika di sana terdapat yang meninggal dunia dalam keadaan masih kecil, baik anak-anak orang mukmin atau kafir, maka bagi mereka tidak ada alasan untuk disiksa, karena Tuhan Maha Suci dari penganiayaan. Bagi yang kafir lebih tidak punya alasan lagi. Sebab, Tuhan lebih memperhatikan kemaslahatannya didunia. Tuhan tidak menghendaki kekafirannya. Berarti, jika ia kafir sama artinya dengan kehendak diri sendiri.
 Sementara, dia sendiri sudah tahu akibat kekafirannya, karena ia diberi akal dan petunjuk.Jadi, kalau yang kafir harus menyalahkan Tuhan atas kehendak dan perbuatannya sendiri, maka ia dianggap oleh memorandum suatu pemikiran yang tidak rasional. Tidak jauh dari pandangan Mu’tazilah di atas, bagi kalangan rasionalis modern pun, dialog tersebut hanyalah akan dinilai sebagai sebuah ilustrasi yang dibuat para pengikut al-Asy'ari sendiri untuk memperlihatkan perbedaan logikanya dengan logika orang-orang Mu’tazilah. Ambillah contoh, misalnya Harun Nasution ketika mengomentari proses konversi Abul Hasan al-Asy’ari dari aliran Mu’tazilah ke teologi barunya, menurutnya itu hal yang sangat mungkin sekali bagi al-Asy’ari membentuk teologi baru karena melihat posisi Mu’tazilah yang semakin dimarginalkan dan semakin tidak diterima oleh kalangan umum. Sebenarnya, untuk mengetahui sebab yang hakiki tentang berpindahnya al- Asy’ari dari Mu’tazilah, perlu diperhatikan kondisi yang ada waktu itu, baik yang berkaitan dengan perkembangan pemikiran keagamaan, maupun situasi sosial politik dan keadaan kekuasaan Sultan.
Menurut al-Kausari, al-Asy’ari melihat para fuqaha’ dan muhadditsin memfokuskan perhatian dalam memahami agama dengan dalil-dalil serta argumentasi yang berpijak pada tafsir, hadis, ijma’ dan qiyas. Disamping itu, para mutakallimin menfokuskan perhatian membela agama dengan senjata logika akal dan mengabaikan nash. Antara kedua kelompok ini terjadi pertentangan yang sangat tajam. Kata al-Kaus\ari, maka mula-mula al-Asy’ari berusaha mendamaikan atau islah antara kedua pihak dengan mengajak mereka untuk kembali dari terlalu ekstrim, kepada jalan yang tengan yang adil. Selanjutnya dijelaskan, al-Asy’ari berpandangan bahwa metode rasional Mu’tazilah akan membawa Islam kepada kehancuran (al-dhimar), dan metode tekstualis muhaddisin dan kawan-kawannya akan membawa Islam menjadi jumud dan mundur. Di samping itu, hal ini juga telah membuat umat Islam berpecah belah. Maka untuk kepentingan Islam dan kesatuan umat, alangkah idealnya bila kedua pihak mencari jalan keluar dan dikompromikan pada suatu mazhab baru yang merupakan jalan tengah (moderat) yang dapat menyatukan hati, mengembalikan kesatuan umat, dengan mengapresiasi kedua sumber aqidah secara proporsional yaitu nas dan ‘aql secara simultan. Al-Asy’ari sampai pada kesimpulan bahwa al-Qur’an dan al-Sunnah tidak mengabaikan ‘aql. Penggunaan ‘aql dalam memahami dan membela syari’ah adalah suatu kemestian, bukan suatu kesesatan.
Dalam masalah agama kita bisa menggunakan dalil ‘aqli dan dalil naqli. Ada di antara masalah itu yang memerlukan dalil ‘aqli, dan ada pula yang tak mungkin dipahami kecuali dengan dalil naqli, di samping ada juga yang memerlukan kedua macam dalil itu (‘aqli dan naqli). Penulis dalam hal ini melihat bahwa tidak mustahil adanya keterikatan yang erat antara faktor-faktor yang disebutkan para penulis di atas dalam melatarbelakangi peralihan Asy’ari dari akidah Mu’tazilah ke Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Bahkan tidak melihat adanya kontradiksi, tapi faktor dan sebab itu cukup mendorong Asy’ari untuk memperjuangkan eaksistensi akidah ahl al-Sunnah. Prestasi Asy’ari dalam memelihara dan mempertahankan akidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah bisa dijadikan sebagai argumentasi atas ketulusan dan kebenaran niatnya. Kalau Imam al-Asy’ari dan perubahan mazhabnya dari Mu’tazilah menjadi Ahl al -Sunnah wa al Jama’ah sebagai cikal bakal munculnya mazhab Asy’ari, maka kiranya faktor dan sebab perubahan itu merupakan sebab utama munculnya pemikiran Asy’ari’ah. -


Ø  Munculnya Maturidiyah
Satu dari sekian aliran kalamiyah yang masih eksis saat ini ialah Maturidiyah. Sebuah golongan yang berafiliasi pada firqah kalamiyyah. Nama kelompok ini dinisbatkan kepada nama pendirinya, yaitu Abu Manshur Al Maturidi. Imam Abu Mansur Al-Maturidi, atau lengkapnya Abu Mansur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al-Maturidi As-Samarqandi Al-Hanafi  (wafat 333 H / 944 M) adalah salah seorang ulama Ahlu Sunnah wal Jama'ah dan imam aliran aqidah Maturidiyyah yang anut sebagian besar pengikut Mazhab Hanafi, serta seorang ahli ilmu kalam.
Imam Al-Maturidi dilahirkan di Maturid, sebuah pemukiman di kota Samarkand (sekarang termasuk wilayah Uzbekistan) yang terletak di seberang sungai. Di bidang ilmu agama, ia berguru pada Abu Nasr al-'Ayadi and Abu Bakr Ahmad al-Jawzajani. Ia banyak menulis tentang ajaran-ajaran Mu'tazilahQarmatiyyah, dan Syi'ah.
Abu Mansur al-Maturidi mencari ilmu pada pertiga terakhir dari abad ke tiga Hijrah, di mana aliran Mu’tazilah sudah mengalami kemundurannya, dan di antara gurunya adalah Nasr bin Yahya al-Balakhi (wafat 268 H).[8] Negeri Samarkand pada saat itu merupakan tempat diskusi dalam ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh. Diskusi di bidang Fiqh berlangsung antara pendukung mazhab Hanafi dan pendukung mazhab Syafi’i
Selain itu, aliran Maturidiyah merupakan salah satu dari sekte Ahl al-Sunnah wal al-Jama’ah yang tampil bersama dengan Asy’ariyah. Kedua aliran ini datang untuk memenuhi kebutuhan mendesak yang menyerukan untuk menyelamatkan diri dari ekstrimitas kaum rasionalis di mana yang berada di barisan paling depan adalah Mu’tazilah, maupun ekstrimitas kaum tekstualis di mana yang berada di barisan paling depan adalah kaum Hanabillah (para pengikut Imam Ibnu Hambal).
Memang aliran Asy’ariyah lebih dulu menentang paham-paham dari aliran Mu’tazilah. Seperti yang kita ketahui, al-Maturidi lahir dan hidup di tengah-tengah iklim keagamaan yang penuh dengan pertentangan pendapat antara Mu’tazilah (aliran teologi yang amat mementingkan akal dan dalam memahami ajaran agama) dan Asy’ariyah (aliran yang menerima rasional dan dalil wahyu) sekitar masalah kemampuan akal manusia.Maka dari itu, Al-Maturidi melibatkan diri dalam pertentangan itu dengan mengajukan pemikiran sendiri.Pemikirannya itu merupakan jalan tengah antara aliran Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Karena itu juga, aliran Maturidiyah sering disebut “berada antara teologi Mu’tazilah dan Asy’ariyah”.
Pada awalnya antara aliran Maturidiyah dan Asy’ariyah dipisahkan oleh jarak: aliran Asy’ariyah di Irak dan Syam (Suriah) kemudian meluas ke Mesir, sedangkan aliran Maturidiyah di Samarkand dan di daerah-daerah di seberang sungai (Oxus-pen). Kedua aliran ini bisa hidup dalam lingkungan yang kompleks dan membentuk satu mazhab.
Nampak jelas bahwa perbedaan sudut pandang mengenai masalah-masalah Fiqh kedua aliran ini merupakan faktor pendorong untuk berlomba dan survive. Orang-orang Hanafiah (para pengikut Imam Hanafi) membentengi aliran Maturidiyah, dan para pengikut Imam al-Syafi’I dan Imam al-Malik mendukung kaum Asy’ariyah. Memang aliran Asy’ariyah lebih dulu menentang paham-paham dari aliran Mu’tazilah.
Seperti yang kita ketahui, al-Maturidi lahir dan hidup di tengah-tengah iklim keagamaan yang penuh dengan pertentangan pendapat antara Mu’tazilah (aliran teologi yang amat mementingkan akal dan dalam memahami ajaran agama) dan Asy’ariyah (aliran yang menerima rasional dan dalil wahyu) sekitar masalah kemampuan akal manusia.
Maka dari itu, Al-Maturidi melibatkan diri dalam pertentangan itu dengan mengajukan pemikiran sendiri. Pemikirannya itu merupakan jalan tengah antara aliran Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Kerana itu juga, aliran Maturidiyah sering disebut “berada antara teologi Mu’tazilah dan Asy’ariyah”. Salah satu pengikut penting dari al-Maturidi adalah Abu al-Yusr Muhammad al-Bazdawi (421-493 H).
Nenek al-Bazdawi adalah murid dari al-Maturidi, dan al-Bazdawi mengetahui ajaran-ajaran al-Maturidi dari orang tuanya. Al-bazdawi sendiri mempunyai murid-murid dan salah seorang dari mereka ialah Najm al-Din Muhammad al-Nasafi (460-537 H).[12] Akan dijelaskan kemudian. B. Ajaran Aliran Maturidiyah Sebelum kita memahami konsep ajaran dari aliran Maturidiyah sebelum terpecah menjadi dua golongan, kita harus tahu konsep pemikiran al-Maturudi terlebih dahulu yakni kewajiban ma’rifah terhadap Allah Swt. mungkin di temukan berdasarkan penalaran akal, sebagaimana Allah Swt. telah memerintahkan untuk melakukan penalaran dalam sejumlah ayat Al-Qur’an.
Allah Swt. memerintahkan kepada manusia untuk berpikir mengenai kerajaan langit dan bumi dan memberikan pengarahan kepada manusia bahwa sekira akal pikiran diarahkan secara konsisten, terlepas dari hawa nafsu dan taklid. Sesuai dengan firman Allah Swt. berikut: Artinya: “Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al-Jaatsiyah, 45: 13)
Maka dari itu, al-Maturudi memberikan kontribusi pemikirannya kurang lebih tiga ajaran yakni: Mengenai sifat-sifat Allah Swt. Mengenai sifat-sifat Allah Swt., aliran Asy’ariyah mengatakan sifat-sifat Allah Swt. itu merupakan sesuatu yang berada di luar Dzat. Mereka juga menetapkan adanya qudrah, iradah,’ ilm, bayah, sama’, bashir dan kalam pada Dzat Allah Swt. Kata mereka, semua itu merupakan sesuatu di luar Dzat-Nya. Mu’tazilah mengatakan bahwa tidak ada sesuatu di luar Dzat-Nya.
Adapun yang disebutkan dalam Al-Qur’an, seperti:’Alim (Maha mengetahui), Khabir (Maha mengenal), Hakim (Maha bijaksana), Bashir (Maha melihat), merupakan nama-nama bagi Dzat Allah Swt.[15] Kemudian al-Maturidi menetapkan sifat-sifat itu bagi Allah Swt., tetapi ia mengatakan bahwa sifat-sifat itu bukanlah sesuatu di luar Dzat-Nya, bukan pula sifat-sifat yang berdiri pada Dzat-Nya dan tidak pula terpisah dari Dzat-Nya.[16] Al-Maturidi juga menerima segala sesuatu yang disifatkan Allah Swt. kepada diri-Nya sendiri, baik berupa sifat maupun keadaan.
Sekalipun demikian, ia menetapkan bahwa Allah Maha Suci dari antropomorfisme (menyerupai bentuk manusia) dan dari mengambil ruang dan waktu. Terhadap ayat-ayat yang mengandung makna sifat-sifat, seperti pernyataan bahwa Allah Swt. mempunyai wajah, tangan, mata dan lainnya, maka al-Maturidi berdiri pada posisi penta’wil dan berjalan di atas prinsipnya, yaitu membawa ayat-ayat yang mutasyabih kepada yang muhkam.[17] Misalnya, ia menginterpretasikan firman Allah Swt.: Artinya: “Lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy….”(QS. Al-A’raf, 7:54) Ia menafsirkan dengan makna alternatif, yaitu bahwa Allah Swt. menuju ‘Arsy dan menciptakannya dalam keadaan rata, lurus dan teratur.[19]
Menurut pendapat kami al-Maturidi dalam memahami sifat-sifat Allah Swt. hampir sependapat dengan aliran Mu’tazilah, yang mengatakan bahwa antara Dzat dan sifat-sifat Allah itu tidak terpisah. Sehingga dalam hal ini, jelas al-Maturidi lebih dekat dengan aliran Mu’tazilah.



1.2 KARYA

1. Karya Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari
Ia meninggalkan karangan-karangan, kurang lebih berjumlah 90 buah dalam berbagai lapangan.Kitabnya yang terkenal ada tiga :
1)                       Maqalat al-Islamiyah yaitu menerangkan tentang pendapat golongan-golongan islam
2)                      Al-Ibanah 'an Ushulid Diniyah menerangkan tentang dasar-dasar agama
3)                      Al-Luma’ Fi al-Raddi berisi tentang bantahan bagi lawannya, orang-orang sesat dan ahli bid’ah
Berikut untuk kitab-kitab lainnya :
1)                       Idhāh al-Burhān fi ar-Raddi 'ala az-Zaighi wa ath-Thughyān
2)                       Tafsir al-Qur'ān (Hāfil al-Jāmi')
3)                       Ar-Radd 'ala Ibni ar-Rāwandi fi ash-Shifāt wa al-Qur'ān
4)                       Al-Fushul fi ar-Radd 'ala al-Mulhidin wa al-Khārijin 'an al-Millah
5)                       Al-Qāmi' likitāb al-Khālidi fi al-Irādah
6)                       Kitāb al-Ijtihād fi al-Ahkām
7)                       Kitāb al-Akhbār wa Tashhihihā
8)                       Kitāb al-Idrāk fi Fununi min Lathif al-Kalām
9)                       Kitāb al-Imāmah
10)                   At-Tabyin 'an Ushuli ad-Din
11)                   Asy-Syarhu wa at-Tafshil fi ar-Raddi 'ala Ahli al-Ifki wa at-Tadhlil
12)                   Al-'Amdu fi ar-Ru'yah
13)                   Kitāb al-Maujiz
14)                   Kitāb fi Khalqi al-A'māl
15)                   Kitāb ash-Shifāt
16)                   Kitāb ar-Radd 'ala al-Mujassimah
17)                   An-Naqdh 'ala al-Jubbā'i
18)                   An-Naqdh 'ala al-Balkhi
19)                   Jumal Maqālāt al-Mulhidin
20)                   Kitāb fi ash-Shifāt
21)                   Adab al-Jidal
22)                   Al-Funan fi ar-Raddhi 'ala al-Mulhidin
23)                   An-Nawādir fi Daqaiqi al-Kalām
24)                   Jawāz Ru'yat Allah bil Abshār
25)                   Risālah ila Ahli Ats-Tsughar

1. Karya  Imam Abu Mansur Al Maturidi
·         Kitab Al Tawhid
·         Kitab Radd Awa'il al-Adilla, sanggahan terhadap Mu'tazilah
·         Radd al-Tahdhib fi al-Jadal, sanggahan terhadap Mu'tazilah
·         Kitab Bayan Awham al-Mu'tazila, 'Kitab Pemaparan Kesalahan Mu'tazilah'
·         Kitab Ta'wilat al-Qur'an.
·         Kitab al-Maqalat
·         Ma'akhidh al-Shara'i` dalam Usul al-Fiqh
·         Al-Jadal fi Usul al-Fiqh
·         Radd al-Usul al-Khamsa, sanggahan terhadap pemaparan Abu Muhammad al-Bahili' tentang lima prinsip Mu'tazilah
·         Radd al-Imama, sanggahan terhadap konsepsi keimaman syiah
·         Al-Radd `ala Usul al-Qaramita
·         Radd Wa`id al-Fussaq

1.3 PEMIKIRAN    
Ø  Pemikiran Asy’ari

Pemikiran-pemikiran Al-Asy'ariyah yang terpenting adalah sebagai berikut:
a)      Tuhan dan Sifat-sifatnya
Berbeda pendapat dikalangan mutakalimin mengenai sifat-siafat allah tidak dapat dihindari meski mereka semua setuju bahwa mengesahkan allah itu wajib.
b)      Kebebasan Dalam Berkehendak (free- will)
Manusia memiliki kemampuan untuk memilih dan menentukan semua hak yang mereka punya (Ibd, hlm. 68).
c)      Akal dan Wahyu dan Kriteria Baik dan Buruk
Banyak orang yang mengakui pentingnya akal dan wahyu, tetapi berbeda dalam menghadapi persoalan yang dapat memperoleh kontradiksidari akal dan wahyu, Al-Asy'ariyah sangat mengutamakan akal (Qodir, op. cit. hlm. 70).
d)     Qodimnya Al-Qur'an
 Yang mengatakan bahwa Al-Qur'an diciptakan(makhluk), dan tidak qodim; serta pandangan mazhab hanbali dan zahiriah yang menyatakan bahwa Al-Qur'an ialah kalam Allah(yang tidak diciptakan)
e)      Melihat Allah
Al-Asy'ariyah yakin bahwa allah dapat dilihat diakhirat (Al-Asy'ariyah, op. cit., hlm. 9;Nasution, op.cit.,hlm.69), tetapi tidak dapat digambarkan. Kemungkinan ru'yat dapat terjadi ketika Allah yang menyebabkan dapat dilihat atau ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihat-nya(Abdul Hye,"Ash'arism" dalam A History of muslim Philosophy, Ed. M.M. sharif, Otto Harras Sowitz, wiebaden, 1963, hlm. 234-235).
f)       Keadilan
Al-Asy'ariyah dan Mu'tazilah setuju bahwa Allah itu adil pada semuanya. Tapi pandangan mereka berbeda dalam pandang dan makna keadilan.
g)      Kedudukan Orang Berdosa
Al-Asyariyah menolak ajaran  posisi menengah yang dianut oleh Mu'tazilah(Nasution, op. cit., hlm. 71).
Ada tiga periode dalam perjalanan keyakinan hidupnya yang berbeda dan merupakan perkembangan ijtihadnya dalam masalah akidah yaitu :

a. Periode Pertama
Beliau hidup di bawah pengaruh Al-Jubbai, syaikh aliran Muktazilah. Bahkan sampai menjadi orang kepercayaannya. Periode ini berlangsung kira-kira selama 40-an tahun. Periode ini membuatnya sangat mengerti seluk-beluk akidah Muktazilah, hingga sampai pada titik kelemahannya dan kelebihannya.

b. Periode Kedua
Beliau berbalik pikiran yang berseberangan paham dengan paham-paham Muktazilah yang selama ini telah mewarnai pemikirannya. Hal ini terjadi setelah beliau merenung dan mengkaji ulang semua pemikiran Muktazilah selama 15 hari. Selama hari-hari itu, beliau juga beristikharah kepada Allah untuk mengevaluasi dan mengkritik balik pemikiran akidah muktazilah.

c. Periode Ketiga
Pada periode ini beliau tidak hanya menetapkan 7 sifat Allah, tetapi semua sifat Allah yang bersumber dari nash-nash yang shahih. Kesemuanya diterima dan ditetapkan, tanpa takyif, ta'thil, tabdil, tamtsil dan tahrif. Beliau pada periode ini menerima bahwa Allah itu benar-benar punya wajah, tangan, kaki, betis dan seterusnya.

Ø  Sebagian Pemikiran dan Aqidah Maturidiyah
Ditinjau dari aspek masdar talaqqi (sumber pengambilan ilmu), Maturidiyah membagi ushuluddin menjadi dua. Pertama. Ilahiyyat (‘aqliyyat), yaitu perkara-perkara yang mampu ditetapkan oleh daya nalar dengan sendirinya. Sementara dalil naqli hanya berperan sebagai kekuatan sekunder. Dimensi ini mencakup dimensi tauhid dan sifat-sifat Allah. Kedua. Syar’iyyat (sam’iyyat), yaitu perkara-perkara yang akal tidak mempunyai akses untuk menentukannya, misalnya siksa kubur, peristiwa-peristiwa di akherat kelak.
Dengan ini, perbedaan Maturidiyah dengan manhaj Ahli Sunnah Wal Jamaah sangat signifikan. Al Quran, As Sunnah dan Ijma’ para sahabat merupakan sumber hukum bagi Ahli Sunnah.
Sebagai aliran yang kental nuansa filsafatnya, mereka mengatakan bahwa bahasa Arab, al Qur`an dan hadits mengandung kata-kata yang berbentuk majaz (kiasan). Berdasarkan pandangan seperti ini, kemudian mereka mentakwil nash-nash tentang sifat Allah, dengan argumentasi ingin menghindarkan diri dari tajsim (pembendaan) terhadap Allah.
Maturidiyah hanya menetapkan delapan sifat saja bagi Allah Ta’ala, dengan versi yang berbeda-beda, yaitu : al hayah (hidup), qudrah (kekuasaan), al ilmu, iradah (kehendak), as sam’u (mendengar), al basharu (melihat), al kalam (berbicara) dan at takwin (pembentukan).
Menurut mereka, seluruh sifat yang muta’adiyyah (tindakan-tindakan) kembali kepada sifat at takwin. Sedangkan sifat-sifat khabariyah (berita tentang dzat Allah), tidak termasuk yang bisa dijangkau oleh akal, sehingga perlu ditiadakan.
Iman hanya sekedar pembenaran hati saja. Iman tidak dapat naik ataupun turun. Dalam hal ini, Abu Manshur al Maturidi menghimpun lebih dari satu bid’ah. Dia menjadi seorang Murji’ah dalam masalah iman, dan sebagai seorang mu’aththil dalam bab sifat-sifat Allah. Dia juga terpengaruh dengan pemikiran Ibnu Kullab, meskipun ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Ibnu Kullab.
Sebagai penutup, kami nukil pernyataan Ibnu Abil ‘Izz dalam kitab Syarah Aqidah Ath Thahawiyah, yang berbunyi: “Setiap orang yang berbicara dengan logika, perasaan dan akal pikirannya -padahal ia berhadapan dengan nash- atau ia mempertentangkan nash dengan logika, (maka) sejatinya ia menyerupai iblis, yang enggan berserah diri kepada Rabbnya. Allah berfirman Subhanahu wa Ta’ala tentangnya:

قَالَ مَامَنَعَكَ أَلاَّتَسْجُدَ إِذْأَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاخَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

“Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api, sedangkan dia, Engkau ciptakan dari tanah”. [al A’raf : 12].


BAB II
KESIMPULAN
Kelompok Asy’ariyah dan Maturidiyah muncul karena ketidakpuasan Abul Hasan Al-Asy’ari dan Abu Manshur Muhammad ibn Muhammad ibn Mahmud Al-Maturidi terhadap argumen dan pendapat-pendapat yang dilontarkan oleh kelompok Muktazilah. Pokok-pokok ajaran Asy’ariah dan Maturidiyah pada dasarnya memiliki beberapa perbedaan dan persamaan.

Pemikiran-pemikiran al-Maturidi jika dikaji lebih dekat, maka akan didapati bahwa al-Maturidi memberikan otoritas yang lebih besar kepada akal manusia dibandingkan dengan Asy’ari yang memberikan otoritas yang seimbang antara akal dan wahyu. Namun demikian di kalangan Maturidiah sendiri ada dua kelompok yang juga memiliki kecenderungan pemikiran yang berbeda yaitu kelompok Samarkand yaitu pengikut-pengikut al-Maturidi sendiri yang paham-paham teologinya lebih dekat kepada paham Mu’tazilah dan kelompok Bukhara yaitu pengikut al-Bazdawi yang condong kepada Asy’ariyah



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH WAHABI