PERILAKU KONSUMEN : KONSEP DIRI DAN POLA KONSUMSI


Nama: AISYATUL FATIMAH
SEMESTER: 5
PERILAKU KONSUMEN : KONSEP DIRI DAN POLA KUNSUMSI

Perilaku konsumen
Menurut Lamb, Hair dan Mc.Daniel menyatakan bahwa perilaku konsumen adalah proses seorang pelanggan dalam membuat keputusan untuk membeli, menggunakan serta mengkonsumsi barang-barang dan jasa yang dibeli, juga termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian dan penggunaan produk.(Rangkuti,2002:91)
Banyak sekali sebab-sebab yang mempengaruhi perilaku konsumen salah satunya yaitu konsep diri, asumsi seseorang terhadap dirinya akan mempengaruhi keinginannya untuk membeli suatu barang atau jasa, contohnya bagi sebagian wanita muslim saat memilih kosmetik  apa yang akan dia beli  wanita muslim kebanyakan akan membeli kosmetik yang ada label halal seperti kosmetik merek  Wardah, karena penampilan merupakan refleksi citra diri seseorang.
Konsep Diri
Pengertian Konsep diri adalah pandangan dan sikap individu terhadap diri sendiri. Pandangan diri terkait dengan dimensi fisik, karakteristik individual, dan motivasi diri. Pandangan diri tidak hanya meliputi kekuatan-kekuatan individual, tetapi juga kelemahan bahkan juga kegagalan dirinya. Konsep diri merupakan inti dari kepribadian individu. Inti kepribadian berperan penting untuk menentukan dan mengarahkan perkembangan kepribadian serta perilaku positif individu.
Konsep diri (self concept) adalah inti dari kepribadian dalam diri seseorang. Inti kepribadian individu punya peranan yang sangat penting dalam menentukan dan mengarahkan perkembangan kepribadian serta perilaku seseorang di tengah-tengah masyarakat termasuk perilakunya sebagai seorang konsumen.
Pengertian konsep diri menurut para ahli:
Cawagas (Pudjijogyanti, 1993:2)
Konsep diri merupakan cangkupan dari seluruh pandangan akan individu di dimensi fisik, karakteristik pribadi, kelemahan, motivasi, kepandaian, kegagalan, dan padnangan lainnya.
Rini (2004:1)
Konsep diri merupakan suatu keyakinan, pandangan atau suatu penilaian seseorang terhadap dirinya.
Burns (Pudjijogyanti, 1993:2)
Konsep diri merupakan hubungan dari sikap dan juga keyakinan akan diri kita sendiri.

Jenis-Jenis Konsep Diri
Konsep diri memiliki beberapa jenis yang diantaranya adalah:
Jenis Konsep Diri Positif
Jenis konsep ini baik bila di miliki oleh seorang individu karana memiliki:
1.      Merasa setara dengan orang lain
2.      Yakin dapat mengatasi segala macam masalah
3.      Dapat menerima pujian tanpa rasa malu
4.      Dapat menyadari bahwa setiap orang memiliki suatu perasaan, keinginan, serta prilaku yang tidak semuanya dapat di setukui oleh anggota masyarakat.
5.      Dapat memperbaiki dirinya sendiri yang di maksud dia mampu untuk dapat mengungkapkan tentang aspek-aspek kepribadian yang tidak di sukainya dan akan berusaha untuk dapat mengubahnya.

Jenis Konsep Diri Negatif
Hal ini di miliki oleh seseorang juga yang berupa:
1.      Sangat serponsif akan pujian
2.      Peka akan kritikan.
3.      Lebih bersikap hiperkritis.
4.      Merasa tidak di sukai oleh orang lain.
5.      Memiliki sikap pesimis akan setiap kompetisi.
Saat seseorang menetapkan bagaimana konsep dirinya itu sama saja dia menetukan gaya hidupnya. Gaya hidup seseorang mempengaruhi semua aspek perilaku konsumsi seseorang dan merupakan fungsi dari karakteristik individu yang melekat yang telah dibentuk dan terbentuk melalui interaksi sosial sebagai orang tersebut yang  telah berkembang melalui siklus kehidupan.
Teori konsep diri
London dan Della Bita (1993) menyatakan bahwa ada empat teori utama tentang konsep diri, yaitu :

1. Self-Appraisal.
Teori ini menyatakan bahwa konsep seseorang terkait dengan perilakunya yang diterima masyarakat (socially accptable behavior) atau ditolak masyarakat (antisocial). Berdasarkan teori ini maka seseorang akan memiliki pandangan bahwa dirinya adalah pribadi yang diterima masyarakat karena perilakunya adalah sesuai dengan yang diinginkan masyarakat, sebaliknya seseorang akan memandang dirinya sebagai pribadi yang bertentangan dengan keinginan masyarakat, karena perilakunya tidak diterima oleh masyarakat.

2. Reflected Appraisal
Teori ini sering disebut juga dengan “looking-glass self”. Teori ini menyatakan bahwa konsep diri akan terbentuk karena seseorang menerima penghargaan dari orang lain. Pemberi penghargaan dan besarnya penghargaan akan menentukan derajat konsep diri yang terbentuk. Penghargaan dari orang-orang yang dianggap penting bagi seseorang (misalnya orang tua, teman, atasan, saudara, guru, dan dosen yang sangat dikagumi orang tersebut) juga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pengembangan konsep diri.

3. Social Comparison
Teori reflected appraisal cenderung menganggap bahwa seseorang adalah pasif, dia hanya merefleksikan penghargaan yang diperoleh dari orang lain. Sebaliknya, teori social comparison lebih menekankan bahwa konsep diri seseorang sangat tergantung bagaimana dia memandang dirinya dalam kaitannya dengan orang lain. Thorstein Veblen adalah ilmuwan pencetus teori ini, dia sangat penasaran untuk memahami mengapa orang bersemangat mengumpulkan lebih banyak barang dan jasa dibandingkan dengan jumlah yang dibutuhkan. Hal ini terjadi karena orang mengumpulkan atau memiliki barang bukan saja untuk memenuhi kebutuhannya, tapi juka membandingkannya dengan jumlah yang dimiliki orang lain. Jika ia memandang jumlah yang dimilikinya masih sedikit dibandingkan orang lain, maka ia akan selalu merasa tidak puas.

4. Biased Scanning
Teori ini mengemukakan bahwa konsep diri sangat terkait dengan motivasi dan biased scanning, yaitu bagaimana pandangan seseorang terhadap lingkungannya. Berdasarkan teori ini pengembangan konsep diri sangat berganntung kepada aspirasi dan motivasi seseorang untuk mencapai tujuan tertentu dan selanjutnya ia akan melakukan pengamatan bias (biased scanning) terhadap lingkungannya untuk mencari informasi yang dapat menguatkan aspirasi dan motivasinya.


Konsep Diri dan Perilaku
Konsep diri mempunyai peranan penting dalam menentukan tingkah laku seseorang. Bagaimana seseorang memandang dirinya akan tercermin dari keseluruhan perilakunya. Artinya, perilaku individu akan selaras dengan cara individu memandang dirinya sendiri. Apabila individu memandang dirinya sebagai orang yang tidak mempunyai cukup kemampuan untuk melakukan suatu tugas, maka seluruh perilakunya Akan menunjukkan ketidakmampuannya tersebut. Menurut Felker (1974), terdapat tiga peranan penting konsep diri dalam menentukan perilaku seseorang, yaitu:
a.       Pertama, self-concept as maintainer of inner consistency. Konsep diri memainkan peranan dalam mempertahankan keselarasan batin seseorang. Individu senantiasa berusaha untuk mempertahankan keselarasan batinnya. Bila individu memiliki ide, perasaan, persepsi atau pikiran yang tidak seimbang atau saling bertentangan, maka akan terjadi situasi psikologis yang tidak menyenangkan. Untuk  menghilangkan ketidakselarasan tersebut, individu mengubah perilaku atau memilih suatu sistem untuk mempertahankan kesesuaian antara individu dengan lingkungannya. Cara menjaga kesesuaian tersebut dapat dilakukan dengan menolak gambaran yang diberikan oleh lingkungannya mengenai dirinya atau individu berusaha mengubah dirinya seperti apa yang diungkapkan likungan sebagai cara untuk menjelaskan kesesuaian dirinya dengan lingkungannya.
b.      Kedua, self-concept as an interpretation of experience. Konsep diri menentukan bagaimana individu memberikan penafsiran atas pengalamannya. Seluruh sikap dan pandangan individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi individu tersebut dalam menafsirkan pengalamannya. Sebuah kejadian akan ditafsirkan secara berbeda antara individu yang satu dengan individu lainnya, karena masing‑masing individu mempunyai sikap dan pandangan yang berbeda terhadap diri mereka. Tafsiran negatif terhadap pengalaman hidup disebabkan oleh pandangan dan sikap negatif terhadap dirinya sendiri. Sebaliknya, tafsiran positif terhadap pengalaman hidup disebabkan oleh pandangan dan sikap positif terhadap dirinya.
c.       Ketiga, self-concept as set of expectations. Konsep diri juga berperan sebagai penentu pengharapan individu. Pengharapan ini merupakan inti dari konsep diri. Bahkan McCandless sebagaimana dikutip Felker (1974) menyebutkan bahwa konsep diri seperangkat harapan­-harapan dan evaluasi terhadap perilaku yang merujuk pada harapan-harapan tersebut. Siswa yang cemas dalam menghadapi ujian akhir dengan mengatakan “saya sebenamya anak bodoh, pasti saya tidak akan mendapat nilai yang baik”, sesungguhnya sudah mencerminkan harapan apa yang akan terjadi dengan hasil ujiannya. Ungkapan tersebut menunjukkan keyakinannya bahwa ia tidak mempunyai kemampuan untuk memperoleh nilai yang baik, Keyakinannya tersebut mencerminkan sikap dan pandangan negatif terhadap dirinya sendiri. Pandangan negatif terhadap dirinya menyebabkan individu mengharapkan tingkah keberhasilan yang akan dicapai hanya pada taraf yang rendah. Patokan yang rendah tersebut menyebabkan individu bersangkutan tidak mempunyai motivasi untuk mencapai prestasi yang gemilang (Pudjijogyanti, 1988).
Konsep diri sangat berpengaruh sekali saat seseorang melakukan kegiatan konsumsi. Seseorang akan menggunakan produk yang memiliki atribut yang sesuai atau dapat mendukung konsep dirinya. Seorang pemasar akan memasarkan barangnya sesuai dengan kepribadian dan kebutuhan konsumennya seperti Kebutuhan masyarakat pedesaan berbeda dengan kebutuhan masyarakat perkotaan. 
Dimensi Konsep Diri
Konsep diri menurut Calhoun dan Acocella (Ghufron&Riswanti, 2010: 17-18) memiliki tiga dimensi, yaitu :
a. Dimensi pengetahuan
 Merupakan pengetahuan individu mengenai diri dan gambarannya yang berarti bahwa dalam aspek kognitif individu yang bersangkutan mendapat informasi mengenai keadaan dirinya. Seperti nama, usia, jenis kelamin, suku bangsa, dsb.
 b. Dimensi pengharapan
Harapan individu di masa mendatang yang disebut juga diri ideal, yaitu kekuatan yang mendorong individu untuk menuju ke masa depan. Rogers (Calhoun, 1995:71) menyatakan pada saat kita mempunyai satu set pandangan tentang siapa kita, kita juga mempunyai satu set pandangan lain yaitu tentang kemungkinan kita menjadi apa dimasa mendatang.
 c. Dimensi penilaian
Penilaian terhadap diri sendiri yang merupakan perbandingan antara pengharapan diri dengan standar diri yang akan menghasilkan harga diri (self esteem). Eipsten (Calhoun, 1995:71) menyatakan dimensi ketiga dari konsep diri adalah penilaian kita terhadap diri sendiri. Kita berkedudukan sebagai penilai tentang diri kita sendiri setiap hari, mengukur apakah kita bertentangan dengan (1) “saya-dapat-menjadi apa”, yaitu pengharapan kita bagi kita sendiri, dan (2) “saya-seharusnyamenjadi apa”, yaitu standar kita bagi diri sendiri.
Solomon (2009) mengatakan konsep diri terdiri atas banyak unsur atau dimensi atau atribut. Evaluasi terhadap sama atribut tersebut akan menghasilkan bahwa suatu atribut mungkin akan memiliki nilai lebih baik dibandingkan atribut lainnya. Atribut-atribut konsep diri adalah sebagai berikut.
1.    Dimensi isi
2.    Nilai positif atau negatif
3.    Itensitas

Menurut (Hurlock,1999:237) mengemukakan bahwa konsep diri memiliki dua dimensi, yaitu:
a. Fisik.
 Dimensi ini meliputi sejumlah konsep yang dimiliki individu mengenai penampilan, kesesuaian dengan jenis kelamin, arti penting tubuh, dan perasaan gengsi dihadapan orang lain yang disebabkan oleh keadaan fisiknya. Hal penting yang berkaitan dengan keadaan fisik adalah daya tarik dan penampilan tubuh di hadapan orang lain. Individu dengan penampilan yang menarik cenderung mendapatkan sikap sosial yang menyenangkan dan penerimaan sosial dari lingkungan sekitar yang akan menimbulkan konsep diri yang positif bagi individu.


b. Psikologis.
 Dimensi ini meliputi penilaian individu terhadap keadaan psikis dirinya, seperti rasa percaya diri, harga diri, serta kemampuan dan ketidakmampuannya. Sebagai contoh penilaian mengenai kemampuan dan ketidakmampuan diri akan mempengaruhi rasa percaya diri dan harga dirinya. Individu yang merasa mampu akan mengalami peningkatan rasa percaya diri dan harga diri, sedangkan individu dengan perasaan tidak mampu akan merasa negatif diri sehingga cenderung terjadi penurunan harga diri.
Dimensi Konsep Diri menurut Hawkins & Mothersbaugh (2010)
1. Actual self concept : bagaimana konsumen memandang dirinya mempengaruhi produk yang akan dibeli. Konsumen memiliki citra, sehingga ia memilik produk yang juga memiliki citra yang merefleksikan konsep dirinya.
2. Ideal self concept : terkait harga diri, membuat iklan yang menjadikan produk seakan penting bagi konsumen untuk meningkatkan harga dirinya.
3. Private self concept : bagaimana konsumen melihat dirinya ingin menjadi seorang karakter tertentu.
4. Social self concept : pandangan masyarakat atau orang lain terhadap diri seseorang, atau keinginan bagaimana seharusnya masyarakat atau orang lain melihat dirinya.
Komponen Konsep Diri
Lima Komponen Konsep Diri menurut JIm Blythe (2008)
1.      Real self                 : konsep diri yang sesungguhnya, sebagaimana orang lain melihat kita.
 
2.      Self image              : konsep diri subjektif dari diri kita sendiri.

3.      Ideal self                : konsep diri yang seharusnya ada/diinginkan.

4.      Looking-glass self  : konsep diri sosial, yaitu bagaimana kita tentang pandangan orang lain terhadap  kita.
5.      Possible selves     :  konsep diri yang mungkin akan terjadi pada kita. Misal, kita sekarang kuliah, kita bisa melihat atau merencanakan bagaimana diri kita saatberada dalam dunia kerja nanti.

Sedangkan Menurut Brian Tracy,  konsep diri memiliki tiga bagian atau komponen  utama yaitu:
·         Self-Ideal (Ideal Diri)
·         Self-Image (Citra Diri)
·         Self-Esteem (Jati Diri)

Ø  Self Ideal (Diri Ideal)
Self ideal atau ideal diri terdiri atas harapan, impian, visi dan idaman. Self ideal ini terbentuk dari kebaikan, nilai dan sifat yang paling dikagumi dari diri sendiri maupun orang lain yang dihormati.
Ø  Self Image (Citra Diri)
Dengan self image atau citra diri kita akan membayangkan diri kita sendiri dan dan menentukan bagaimana kita akan bersikap pada suatu situasi.
Ø  Self Esteem (Jati Diri)
Jati diri merupakan penilaian bagaimana kita menyukai diri sendiri. Semakin kita menyukai diri sendiri maka akan kita akan bertindak dalam bidanhg apapun yang kita tekuni.
                                       
Faktor Yang Mempengaruhi Konsep Diri
Konsep diri atau self concept tidaklah bawaan sejak lahir, melainkan hasil dari proses belajar. Saat manusia mengenal lingkungannya, maka saat itu pula dia belajar berbagai hal mengenai kehidupan. Berdasarkan pengalaman hidupnya, seorang individu akan menetapkan konsep dirinya berdasarkan berbagai faktor.
Menurut E.B. Hurlock yang merupakan seorang psikolog, faktor yng mempengaruhi konsep diri tersebut diataranya yaitu bentuk tubuh, cacat tubuh, pakaian, nama dan julukan, inteligensi kecerdasan, taraf aspirasi/cita-cita, emosi, jenis/gengsi sekolah, status sosial, ekonomi keluarga, teman dan tokoh/orang yang berpengaruh.
Sedangka GH Mead (Clara R Pudijogyanti, 1995: 12) mengatakan bahwa:
Konsep diri merupakan produk sosial yang dibentuk melalui proses internalisasi dan organisasi pengalaman-pengalaman psikologis. Pengalaman psikologis ini merupakan hasil eksplorasi individu terhadap lingkungan fisiknya dan refleksi dari dirinya yang diterima dari orang-orang penting disekitarnya.


Pola Konsumsi
Sebelum kita membahas pola konsumsi, sebaiknya kita membahas apa itu konsumsi.
Konsumsi adalah segala kegiatan yang dipergunakan dengan tujuan untuk mengambil kegunaan pada suatu produk dan jasa. Produk dan jasa ini dapat berupa barang atau benda, serta sebuah jenis jasa atau pelayanan. Kegiatan konsumsi ini dimaksudkan untuk memenuhi semua kebutuhan yang bersifat penting atau bahkan hanya bersifat kesenangan dan kepuasan dalam waktu seketika. Barang konsumsi adalah barang-barang yang diproduksi dengan tujuan untuk dipergunakan oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kegiatan konsumsi ini tercipta karena adanya seseorang yang melakukan proses produksi atau memproduksi. Begitu pula sebaliknya, kegiatan produksi ada karena seseorang yang melakukan kegiatan konsumsi atas produk tersebut.

Teori Konsumsi dari Herman Heinrich Gossen


Menurut Gossen, terdapat dua asumsi yang mendasari seseorang untuk melakukan konsumsi, yaitu konsumsi vertikal dan konsumsi horizontal. Pada asumsi ini, konsumsi diartikan sebagai kebutuhan. Asumsi konsumsi vertikal adalah ketika seseorang memprioritaskan pemenuhan suatu kebutuhan pada level tertinggi sehingga ketika hal itu tercapai, maka akan menimbulkan kepuasan yang tinggi pula. Hal ini berakibat kurangnya perhatian pada kebutuhan yang lain sehingga kebutuhan yang lain akan dianggap tingkat kepuasannya rendah.
Asumsi konsumsi horizontal adalah ketika seseorang memperhatikan semua kebutuhannya secara sama penting dan merata dengan memperhatikan sekaligus banyak kebutuhan. Sehingga seseorang tersebut berusaha untuk memenuhi berbagai macam kebutuhannya dan berusaha memperoleh tingkat kepuasan yang sama rata dengan semua jenis pemenuhan kebutuhan tersebut.
Kedua asumsi tersebut dapat melahirkan fungsi dan variable konsumsi dalam ekonomi. Hal ini dapat dijelaskan melalui contoh. Untuk konsumsi vertikal, misalnya ketika Anda makan satu ayam goreng, akan terasa enak. Namun ketika Anda memakan ayam goreng kedua, Anda akan kehilangan perasaan yang sama seperti ketika memakan ayam goreng yang pertama. Dan ketika Anda memakan ayam goreng ketiga, Anda sudah tidak merasakan sama sekali rasa enak memakan ayam, bahkan justru bosan dan tidak mendapat kesenangan apapun. Hal ini sesuai dengan hukum Gossen I yang berbunyi “Jika pemenuhan satu kebutuhan dilakukan secara terus menerus, tingkat kenikmatan atas pemenuhan itu semakin lama akan semakin berkurang hingga akhirnya mencapai titik kepuasan tertentu”.
Contoh fungsi dan variable konsumsi horizontal adalah ketika Anda memiliki uang Rp 100.000 yang akan digunakan untuk berbelanja kebutuhan memasak, maka Anda akan mengalokasikan pembagian uang tersebut secara cukup dan merata untuk memenuhi bahan-bahan yang Anda perlukan untuk memasak suatu menu tertentu. Hal ini sesuai dengan hukum Gossen II yang berbunyi “Pada dasarnya, manusia cenderung memenuhi berbagai macam kebutuhannya sampai pada tingkat intensitas / kepuasaan yang sama”.

Pengertian Konsumsi menurut Irving Fisher


Teori konsumsi menurut Fisher adalah pertimbangan yang dilakukan seseorang untuk melakukan konsumsi berdasarkan kondisi pada saat ini dan kondisi pada saat yang akan datang. Dimana kedua kondisi tersebut akan menentukan jumlah berapa banyak pendapatan yang akan ditabung, serta berapa banyak pendapatan yang akan dikeluarkan atau dihabiskan untuk keperluan konsumsi. Contohnya adalah jika pada saat ini seseorang melakukan konsumsi dengan skala yang cukup besar, maka pada masa mendatang tingkat konsumsi seseorang tersebut otomatis akan semakin kecil dan sedikit, dan begitu pula sebaliknya.
Tujuan konsumsi
Ada banyak tujuan orang melakukan kegiatan konsumsi di antaranya adalah :
1. Mengurangi nilai guna barang atau jasa secara bertahap Setiap orang yang melakukan konsumsi akan mengurangi nilai guna barang atau jasa tersebut secara bertahap. Sebagai contohnya ialah seperti memakai pakaian, kendaraan dan sepatu.
2. Menghabiskan nilai guna barang sekaligus Konsumen juga dapat menghabiskan nilai guna barang sekaligus. Sebagai contoh adalah makan dan minum.
3. Memuaskan kebutuhan secara fisik Seseorang melakukan konsumsi bertujuan untuk mencukupi kebutuhan mereka secara fisik. Kebutuhan tersebut telah dijelaskan pada pembahasan bab sebelumnya. Contohnya ialah mengenakan pakaian yang bagus agar penampilannya bertambah baik.
4. Memuaskan kebutuhan rohani Tidak hanya kebutuhan secara fisik saja tujuan seorang konsumen melakukan kegiatan konsumsi akan tetapi juga untuk memuaskan kebutuhan rohani seperti contohnya ialah membeli kitab suci untuk kebutuhan religiusitas/ rohaninya.
5. mendapat penghargaan dari orang lain.Kadang kala orang mengonsumsi barang atau jasa bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi juga ingin mendapat penghargaan/pujian dari orang lain. Contoh, orang memakai barang mewah yang harganya ratusan juta selain untuk memenuhi kebutuhan akan barang, juga ingin mendapat penghargaan dari orang lain.




Pola Konsumsi
Pola konsumsi merupakan suatu susunan akan kebutuhan seseorang terhadap barang dan jasa yang akan dikonsumsi dan tergantung berdasarkan pendapatan dalam jangka waktu tertentu. Perlu diketahui bahwa pola konsumsi seseorang berbeda dengan orang yang lainnya. Hal ini tergantung dari besarnya pendapatan seseorang tersebut untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya. Seseorang juga akan menyusun kebutuhan konsumsinya berdasarkan prioritas yang pokok kemudian sekunder. Seperti misalnya kebutuhan pokok adalah kebutuhan untuk makan, pendidikan, dan kesehatan. Sedangkan yang termasuk ke dalam kebutuhan sekunder adalah hiburan dan rekreasi. Sehingga ketika pendapatan seseorang tersebut mengalami penurunan, maka orang tersebut akan memangkas kebutuhan sekunder nya kemudian memprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pokok terlebih dahulu. Hal ini akan menekan kebiasaan melakukan pola konsumsi yang berlebihan. Karena pada dasarnya perilaku konsumtif akan menimbulkan efek negatif yang tidak baik bagi tingkat perekonomian seseorang. Maka dari itu, seseorang harus menerapkan pola konsumsi yang rasional dalam pemenuhan kebutuhannya.
Selain itu, besar kecilnya konsumsi yang dilakukan seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor berikut ini :
1.      Pendapatan
2.      Perkiraan harga di masa mendatang
3.      Harga barang yang bersangkutan
4.      Barang substitusi dan komplementer
5.      Iklan
6.      Ketersediaan barang dan jasa
7.      Selera
8.      Mode
9.      Jumlah keluarga
10.  Lingkungan sosial budaya
Pola konsumsi tiap orang berbeda-beda. Orang yang berpendapatan tinggi berbeda pola konsumsinya dengan orang yang berpendapatan menengah, berbeda pula dengan orang yang berpendapatan rendah. Pola konsumsi direktur berbeda dengan konsumsi karyawan. Pola konsumsi guru berbeda dengan pola konsumsi petani. Pola konsumsi orang yang hidup di daerah pedesaan berbeda dengan orang yang hidup di perkotaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH WAHABI

MAKALAH KE-NU-AN