PERILAKU KONSUMEN : KONSEP DIRI DAN POLA KONSUMSI
Nama: AISYATUL FATIMAH
SEMESTER: 5
PERILAKU
KONSUMEN : KONSEP DIRI DAN POLA KUNSUMSI
Perilaku
konsumen
Menurut Lamb, Hair dan Mc.Daniel
menyatakan bahwa perilaku konsumen adalah proses seorang pelanggan dalam
membuat keputusan untuk membeli, menggunakan serta mengkonsumsi barang-barang
dan jasa yang dibeli, juga termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan
pembelian dan penggunaan produk.(Rangkuti,2002:91)
Banyak sekali sebab-sebab yang
mempengaruhi perilaku konsumen salah satunya yaitu konsep diri, asumsi
seseorang terhadap dirinya akan mempengaruhi keinginannya untuk membeli suatu
barang atau jasa, contohnya bagi sebagian wanita muslim saat memilih
kosmetik apa yang akan dia beli wanita muslim kebanyakan akan membeli kosmetik
yang ada label halal seperti kosmetik merek
Wardah, karena penampilan merupakan refleksi citra diri seseorang.
Konsep
Diri
Pengertian Konsep diri adalah
pandangan dan sikap individu terhadap diri sendiri. Pandangan diri terkait
dengan dimensi fisik, karakteristik individual, dan motivasi
diri. Pandangan diri tidak hanya meliputi kekuatan-kekuatan individual,
tetapi juga kelemahan bahkan juga kegagalan dirinya. Konsep diri merupakan
inti dari kepribadian individu. Inti kepribadian berperan penting untuk
menentukan dan mengarahkan perkembangan kepribadian serta perilaku positif
individu.
Konsep diri (self
concept) adalah inti dari kepribadian dalam diri seseorang. Inti
kepribadian individu punya peranan yang sangat penting dalam menentukan dan
mengarahkan perkembangan kepribadian serta perilaku seseorang di tengah-tengah
masyarakat termasuk perilakunya sebagai seorang konsumen.
Pengertian konsep diri menurut para
ahli:
Cawagas (Pudjijogyanti, 1993:2)
Konsep diri merupakan cangkupan dari
seluruh pandangan akan individu di dimensi fisik, karakteristik pribadi,
kelemahan, motivasi, kepandaian, kegagalan, dan padnangan lainnya.
Rini (2004:1)
Konsep diri merupakan suatu keyakinan,
pandangan atau suatu penilaian seseorang terhadap dirinya.
Burns (Pudjijogyanti, 1993:2)
Konsep diri merupakan hubungan dari
sikap dan juga keyakinan akan diri kita sendiri.
Jenis-Jenis
Konsep Diri
Konsep diri memiliki beberapa jenis yang
diantaranya adalah:
Jenis Konsep Diri Positif
Jenis konsep ini baik bila di miliki
oleh seorang individu karana memiliki:
1. Merasa
setara dengan orang lain
2. Yakin
dapat mengatasi segala macam masalah
3. Dapat
menerima pujian tanpa rasa malu
4. Dapat
menyadari bahwa setiap orang memiliki suatu perasaan, keinginan, serta prilaku
yang tidak semuanya dapat di setukui oleh anggota masyarakat.
5. Dapat
memperbaiki dirinya sendiri yang di maksud dia mampu untuk dapat mengungkapkan
tentang aspek-aspek kepribadian yang tidak di sukainya dan akan berusaha untuk
dapat mengubahnya.
Jenis Konsep Diri Negatif
Hal ini di miliki oleh seseorang juga
yang berupa:
1. Sangat
serponsif akan pujian
2. Peka
akan kritikan.
3. Lebih
bersikap hiperkritis.
4. Merasa
tidak di sukai oleh orang lain.
5. Memiliki
sikap pesimis akan setiap kompetisi.
Saat seseorang menetapkan bagaimana
konsep dirinya itu sama saja dia menetukan gaya hidupnya. Gaya hidup seseorang
mempengaruhi semua aspek perilaku konsumsi seseorang dan merupakan fungsi dari
karakteristik individu yang melekat yang telah dibentuk dan terbentuk melalui
interaksi sosial sebagai orang tersebut yang telah berkembang melalui
siklus kehidupan.
Teori
konsep diri
London
dan Della Bita (1993) menyatakan bahwa ada empat teori utama tentang konsep
diri, yaitu :
1.
Self-Appraisal.
Teori ini menyatakan bahwa konsep seseorang terkait dengan perilakunya yang diterima masyarakat (socially accptable behavior) atau ditolak masyarakat (antisocial). Berdasarkan teori ini maka seseorang akan memiliki pandangan bahwa dirinya adalah pribadi yang diterima masyarakat karena perilakunya adalah sesuai dengan yang diinginkan masyarakat, sebaliknya seseorang akan memandang dirinya sebagai pribadi yang bertentangan dengan keinginan masyarakat, karena perilakunya tidak diterima oleh masyarakat.
Teori ini menyatakan bahwa konsep seseorang terkait dengan perilakunya yang diterima masyarakat (socially accptable behavior) atau ditolak masyarakat (antisocial). Berdasarkan teori ini maka seseorang akan memiliki pandangan bahwa dirinya adalah pribadi yang diterima masyarakat karena perilakunya adalah sesuai dengan yang diinginkan masyarakat, sebaliknya seseorang akan memandang dirinya sebagai pribadi yang bertentangan dengan keinginan masyarakat, karena perilakunya tidak diterima oleh masyarakat.
2.
Reflected Appraisal
Teori ini sering disebut juga dengan “looking-glass self”. Teori ini menyatakan bahwa konsep diri akan terbentuk karena seseorang menerima penghargaan dari orang lain. Pemberi penghargaan dan besarnya penghargaan akan menentukan derajat konsep diri yang terbentuk. Penghargaan dari orang-orang yang dianggap penting bagi seseorang (misalnya orang tua, teman, atasan, saudara, guru, dan dosen yang sangat dikagumi orang tersebut) juga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pengembangan konsep diri.
Teori ini sering disebut juga dengan “looking-glass self”. Teori ini menyatakan bahwa konsep diri akan terbentuk karena seseorang menerima penghargaan dari orang lain. Pemberi penghargaan dan besarnya penghargaan akan menentukan derajat konsep diri yang terbentuk. Penghargaan dari orang-orang yang dianggap penting bagi seseorang (misalnya orang tua, teman, atasan, saudara, guru, dan dosen yang sangat dikagumi orang tersebut) juga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pengembangan konsep diri.
3. Social
Comparison
Teori reflected appraisal cenderung menganggap bahwa seseorang adalah pasif, dia hanya merefleksikan penghargaan yang diperoleh dari orang lain. Sebaliknya, teori social comparison lebih menekankan bahwa konsep diri seseorang sangat tergantung bagaimana dia memandang dirinya dalam kaitannya dengan orang lain. Thorstein Veblen adalah ilmuwan pencetus teori ini, dia sangat penasaran untuk memahami mengapa orang bersemangat mengumpulkan lebih banyak barang dan jasa dibandingkan dengan jumlah yang dibutuhkan. Hal ini terjadi karena orang mengumpulkan atau memiliki barang bukan saja untuk memenuhi kebutuhannya, tapi juka membandingkannya dengan jumlah yang dimiliki orang lain. Jika ia memandang jumlah yang dimilikinya masih sedikit dibandingkan orang lain, maka ia akan selalu merasa tidak puas.
Teori reflected appraisal cenderung menganggap bahwa seseorang adalah pasif, dia hanya merefleksikan penghargaan yang diperoleh dari orang lain. Sebaliknya, teori social comparison lebih menekankan bahwa konsep diri seseorang sangat tergantung bagaimana dia memandang dirinya dalam kaitannya dengan orang lain. Thorstein Veblen adalah ilmuwan pencetus teori ini, dia sangat penasaran untuk memahami mengapa orang bersemangat mengumpulkan lebih banyak barang dan jasa dibandingkan dengan jumlah yang dibutuhkan. Hal ini terjadi karena orang mengumpulkan atau memiliki barang bukan saja untuk memenuhi kebutuhannya, tapi juka membandingkannya dengan jumlah yang dimiliki orang lain. Jika ia memandang jumlah yang dimilikinya masih sedikit dibandingkan orang lain, maka ia akan selalu merasa tidak puas.
4. Biased
Scanning
Teori ini mengemukakan bahwa konsep diri sangat terkait dengan motivasi dan biased scanning, yaitu bagaimana pandangan seseorang terhadap lingkungannya. Berdasarkan teori ini pengembangan konsep diri sangat berganntung kepada aspirasi dan motivasi seseorang untuk mencapai tujuan tertentu dan selanjutnya ia akan melakukan pengamatan bias (biased scanning) terhadap lingkungannya untuk mencari informasi yang dapat menguatkan aspirasi dan motivasinya.
Teori ini mengemukakan bahwa konsep diri sangat terkait dengan motivasi dan biased scanning, yaitu bagaimana pandangan seseorang terhadap lingkungannya. Berdasarkan teori ini pengembangan konsep diri sangat berganntung kepada aspirasi dan motivasi seseorang untuk mencapai tujuan tertentu dan selanjutnya ia akan melakukan pengamatan bias (biased scanning) terhadap lingkungannya untuk mencari informasi yang dapat menguatkan aspirasi dan motivasinya.
Konsep Diri dan Perilaku
Konsep diri mempunyai peranan penting
dalam menentukan tingkah laku seseorang. Bagaimana seseorang memandang dirinya
akan tercermin dari keseluruhan perilakunya. Artinya, perilaku individu akan
selaras dengan cara individu memandang dirinya sendiri. Apabila individu
memandang dirinya sebagai orang yang tidak mempunyai cukup kemampuan untuk
melakukan suatu tugas, maka seluruh perilakunya Akan menunjukkan
ketidakmampuannya tersebut. Menurut Felker (1974), terdapat tiga peranan
penting konsep diri dalam menentukan perilaku seseorang, yaitu:
a. Pertama, self-concept
as maintainer of inner consistency. Konsep diri memainkan peranan dalam
mempertahankan keselarasan batin seseorang. Individu senantiasa berusaha untuk
mempertahankan keselarasan batinnya. Bila individu memiliki ide, perasaan,
persepsi atau pikiran yang tidak seimbang atau saling bertentangan, maka akan
terjadi situasi psikologis yang tidak menyenangkan. Untuk menghilangkan
ketidakselarasan tersebut, individu mengubah perilaku atau memilih suatu sistem
untuk mempertahankan kesesuaian antara individu dengan lingkungannya. Cara
menjaga kesesuaian tersebut dapat dilakukan dengan menolak gambaran yang
diberikan oleh lingkungannya mengenai dirinya atau individu berusaha mengubah
dirinya seperti apa yang diungkapkan likungan sebagai cara untuk menjelaskan
kesesuaian dirinya dengan lingkungannya.
b. Kedua, self-concept
as an interpretation of experience. Konsep diri menentukan bagaimana individu
memberikan penafsiran atas pengalamannya. Seluruh sikap dan pandangan individu
terhadap dirinya sangat mempengaruhi individu tersebut dalam menafsirkan
pengalamannya. Sebuah kejadian akan ditafsirkan secara berbeda antara individu
yang satu dengan individu lainnya, karena masing‑masing individu mempunyai
sikap dan pandangan yang berbeda terhadap diri mereka. Tafsiran negatif
terhadap pengalaman hidup disebabkan oleh pandangan dan sikap negatif terhadap
dirinya sendiri. Sebaliknya, tafsiran positif terhadap pengalaman hidup
disebabkan oleh pandangan dan sikap positif terhadap dirinya.
c. Ketiga, self-concept
as set of expectations. Konsep diri juga berperan sebagai penentu pengharapan
individu. Pengharapan ini merupakan inti dari konsep diri. Bahkan McCandless
sebagaimana dikutip Felker (1974) menyebutkan bahwa konsep diri seperangkat harapan-harapan
dan evaluasi terhadap perilaku yang merujuk pada harapan-harapan tersebut.
Siswa yang cemas dalam menghadapi ujian akhir dengan mengatakan “saya sebenamya
anak bodoh, pasti saya tidak akan mendapat nilai yang baik”, sesungguhnya sudah
mencerminkan harapan apa yang akan terjadi dengan hasil ujiannya. Ungkapan
tersebut menunjukkan keyakinannya bahwa ia tidak mempunyai kemampuan untuk
memperoleh nilai yang baik, Keyakinannya tersebut mencerminkan sikap dan
pandangan negatif terhadap dirinya sendiri. Pandangan negatif terhadap dirinya
menyebabkan individu mengharapkan tingkah keberhasilan yang akan dicapai hanya
pada taraf yang rendah. Patokan yang rendah tersebut menyebabkan individu
bersangkutan tidak mempunyai motivasi untuk mencapai prestasi yang gemilang
(Pudjijogyanti, 1988).
Konsep diri sangat berpengaruh sekali
saat seseorang melakukan kegiatan konsumsi. Seseorang akan menggunakan produk yang memiliki atribut yang sesuai
atau dapat mendukung konsep dirinya. Seorang pemasar akan memasarkan barangnya
sesuai dengan kepribadian dan kebutuhan konsumennya seperti Kebutuhan
masyarakat pedesaan berbeda dengan kebutuhan masyarakat perkotaan.
Dimensi
Konsep Diri
Konsep diri menurut Calhoun dan Acocella
(Ghufron&Riswanti, 2010: 17-18) memiliki tiga dimensi, yaitu :
a. Dimensi pengetahuan
Merupakan
pengetahuan individu mengenai diri dan gambarannya yang berarti bahwa dalam
aspek kognitif individu yang bersangkutan mendapat informasi mengenai keadaan
dirinya. Seperti nama, usia, jenis kelamin, suku bangsa, dsb.
b. Dimensi pengharapan
Harapan individu di masa mendatang yang
disebut juga diri ideal, yaitu kekuatan yang mendorong individu untuk menuju ke
masa depan. Rogers (Calhoun, 1995:71) menyatakan pada saat kita mempunyai
satu set pandangan tentang siapa kita, kita juga mempunyai satu set pandangan
lain yaitu tentang kemungkinan kita menjadi apa dimasa mendatang.
c. Dimensi penilaian
Penilaian terhadap diri sendiri yang
merupakan perbandingan antara pengharapan diri dengan standar diri yang akan
menghasilkan harga diri (self esteem). Eipsten (Calhoun, 1995:71) menyatakan
dimensi ketiga dari konsep diri adalah penilaian kita terhadap diri sendiri.
Kita berkedudukan sebagai penilai tentang diri kita sendiri setiap hari,
mengukur apakah kita bertentangan dengan (1) “saya-dapat-menjadi apa”, yaitu
pengharapan kita bagi kita sendiri, dan (2) “saya-seharusnyamenjadi apa”, yaitu
standar kita bagi diri sendiri.
Solomon (2009) mengatakan konsep diri
terdiri atas banyak unsur atau dimensi atau atribut. Evaluasi terhadap sama
atribut tersebut akan menghasilkan bahwa suatu atribut mungkin akan memiliki
nilai lebih baik dibandingkan atribut lainnya. Atribut-atribut konsep diri
adalah sebagai berikut.
1. Dimensi isi
2. Nilai positif
atau negatif
3. Itensitas
Menurut (Hurlock,1999:237) mengemukakan
bahwa konsep diri memiliki dua dimensi, yaitu:
a. Fisik.
Dimensi ini meliputi sejumlah konsep yang
dimiliki individu mengenai penampilan, kesesuaian dengan jenis kelamin, arti penting
tubuh, dan perasaan gengsi dihadapan orang lain yang disebabkan oleh keadaan
fisiknya. Hal penting yang berkaitan dengan keadaan fisik adalah daya tarik dan
penampilan tubuh di hadapan orang lain. Individu dengan penampilan yang menarik
cenderung mendapatkan sikap sosial yang menyenangkan dan penerimaan sosial dari
lingkungan sekitar yang akan menimbulkan konsep diri yang positif bagi
individu.
b. Psikologis.
Dimensi ini meliputi penilaian individu
terhadap keadaan psikis dirinya, seperti rasa percaya diri, harga diri, serta
kemampuan dan ketidakmampuannya. Sebagai contoh penilaian mengenai kemampuan
dan ketidakmampuan diri akan mempengaruhi rasa percaya diri dan harga dirinya.
Individu yang merasa mampu akan mengalami peningkatan rasa percaya diri dan
harga diri, sedangkan individu dengan perasaan tidak mampu akan merasa negatif
diri sehingga cenderung terjadi penurunan harga diri.
Dimensi Konsep Diri menurut Hawkins
& Mothersbaugh (2010)
1. Actual self concept : bagaimana
konsumen memandang dirinya mempengaruhi produk yang akan dibeli. Konsumen
memiliki citra, sehingga ia memilik produk yang juga memiliki citra
yang merefleksikan konsep dirinya.
2. Ideal self concept : terkait harga diri, membuat iklan yang menjadikan produk seakan penting bagi konsumen untuk meningkatkan harga dirinya.
3. Private self concept : bagaimana konsumen melihat dirinya ingin menjadi seorang karakter tertentu.
4. Social self concept : pandangan masyarakat atau orang lain terhadap diri seseorang, atau keinginan bagaimana seharusnya masyarakat atau orang lain melihat dirinya.
2. Ideal self concept : terkait harga diri, membuat iklan yang menjadikan produk seakan penting bagi konsumen untuk meningkatkan harga dirinya.
3. Private self concept : bagaimana konsumen melihat dirinya ingin menjadi seorang karakter tertentu.
4. Social self concept : pandangan masyarakat atau orang lain terhadap diri seseorang, atau keinginan bagaimana seharusnya masyarakat atau orang lain melihat dirinya.
Komponen
Konsep Diri
Lima Komponen Konsep Diri menurut JIm
Blythe (2008)
1. Real
self :
konsep diri yang sesungguhnya, sebagaimana orang lain melihat kita.
2. Self
image
: konsep diri subjektif dari diri kita sendiri.
3. Ideal
self
: konsep diri yang seharusnya ada/diinginkan.
4. Looking-glass
self : konsep diri sosial, yaitu
bagaimana kita tentang pandangan orang lain terhadap kita.
5. Possible
selves : konsep diri yang mungkin akan
terjadi pada kita. Misal, kita sekarang kuliah, kita bisa melihat atau
merencanakan bagaimana diri kita saatberada dalam dunia kerja nanti.
Sedangkan Menurut Brian Tracy,
konsep diri memiliki tiga bagian atau komponen utama yaitu:
·
Self-Ideal (Ideal Diri)
·
Self-Image (Citra Diri)
·
Self-Esteem (Jati Diri)
Ø Self
Ideal (Diri Ideal)
Self ideal atau ideal diri terdiri atas
harapan, impian, visi dan idaman. Self ideal ini terbentuk dari kebaikan, nilai
dan sifat yang paling dikagumi dari diri sendiri maupun orang lain yang
dihormati.
Ø Self
Image (Citra Diri)
Dengan self image atau citra diri kita
akan membayangkan diri kita sendiri dan dan menentukan bagaimana kita akan
bersikap pada suatu situasi.
Ø Self
Esteem (Jati Diri)
Jati diri merupakan penilaian bagaimana
kita menyukai diri sendiri. Semakin kita menyukai diri sendiri maka akan kita
akan bertindak dalam bidanhg apapun yang kita tekuni.
Faktor
Yang Mempengaruhi Konsep Diri
Konsep diri atau self concept tidaklah
bawaan sejak lahir, melainkan hasil dari proses belajar. Saat manusia mengenal
lingkungannya, maka saat itu pula dia belajar berbagai hal mengenai kehidupan.
Berdasarkan pengalaman hidupnya, seorang individu akan menetapkan konsep
dirinya berdasarkan berbagai faktor.
Menurut E.B. Hurlock yang merupakan
seorang psikolog, faktor yng mempengaruhi konsep diri tersebut diataranya yaitu
bentuk tubuh, cacat tubuh, pakaian, nama dan julukan, inteligensi kecerdasan,
taraf aspirasi/cita-cita, emosi, jenis/gengsi sekolah, status sosial, ekonomi
keluarga, teman dan tokoh/orang yang berpengaruh.
Sedangka GH Mead (Clara R Pudijogyanti,
1995: 12) mengatakan bahwa:
Konsep diri merupakan produk sosial yang
dibentuk melalui proses internalisasi dan organisasi pengalaman-pengalaman
psikologis. Pengalaman psikologis ini merupakan hasil eksplorasi individu
terhadap lingkungan fisiknya dan refleksi dari dirinya yang diterima dari
orang-orang penting disekitarnya.
Pola
Konsumsi
Sebelum kita membahas pola konsumsi,
sebaiknya kita membahas apa itu konsumsi.
Konsumsi adalah segala kegiatan
yang dipergunakan dengan tujuan untuk mengambil kegunaan pada suatu produk dan
jasa. Produk dan jasa ini dapat berupa barang atau benda, serta sebuah jenis
jasa atau pelayanan. Kegiatan konsumsi ini dimaksudkan untuk memenuhi semua
kebutuhan yang bersifat penting atau bahkan hanya bersifat kesenangan dan
kepuasan dalam waktu seketika. Barang konsumsi adalah barang-barang yang
diproduksi dengan tujuan untuk dipergunakan oleh masyarakat dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya. Kegiatan konsumsi ini tercipta karena adanya seseorang yang
melakukan proses produksi atau memproduksi. Begitu pula sebaliknya, kegiatan
produksi ada karena seseorang yang melakukan kegiatan konsumsi atas produk
tersebut.
Teori Konsumsi
dari Herman Heinrich Gossen
Menurut Gossen, terdapat dua asumsi yang
mendasari seseorang untuk melakukan konsumsi, yaitu konsumsi vertikal dan
konsumsi horizontal. Pada asumsi ini, konsumsi diartikan sebagai kebutuhan.
Asumsi konsumsi vertikal adalah ketika seseorang memprioritaskan pemenuhan
suatu kebutuhan pada level tertinggi sehingga ketika hal itu tercapai, maka
akan menimbulkan kepuasan yang tinggi pula. Hal ini berakibat kurangnya
perhatian pada kebutuhan yang lain sehingga kebutuhan yang lain akan dianggap tingkat
kepuasannya rendah.
Asumsi konsumsi horizontal adalah ketika
seseorang memperhatikan semua kebutuhannya secara sama penting dan merata
dengan memperhatikan sekaligus banyak kebutuhan. Sehingga seseorang tersebut
berusaha untuk memenuhi berbagai macam kebutuhannya dan berusaha memperoleh
tingkat kepuasan yang sama rata dengan semua jenis pemenuhan kebutuhan
tersebut.
Kedua asumsi tersebut dapat melahirkan
fungsi dan variable konsumsi dalam ekonomi. Hal ini dapat dijelaskan melalui
contoh. Untuk konsumsi vertikal, misalnya ketika Anda makan satu ayam goreng,
akan terasa enak. Namun ketika Anda memakan ayam goreng kedua, Anda akan
kehilangan perasaan yang sama seperti ketika memakan ayam goreng yang pertama.
Dan ketika Anda memakan ayam goreng ketiga, Anda sudah tidak merasakan sama
sekali rasa enak memakan ayam, bahkan justru bosan dan tidak mendapat
kesenangan apapun. Hal ini sesuai dengan hukum Gossen I yang berbunyi “Jika
pemenuhan satu kebutuhan dilakukan secara terus menerus, tingkat kenikmatan
atas pemenuhan itu semakin lama akan semakin berkurang hingga akhirnya mencapai
titik kepuasan tertentu”.
Contoh fungsi dan variable konsumsi
horizontal adalah ketika Anda memiliki uang Rp 100.000 yang akan digunakan
untuk berbelanja kebutuhan memasak, maka Anda akan mengalokasikan pembagian
uang tersebut secara cukup dan merata untuk memenuhi bahan-bahan yang Anda
perlukan untuk memasak suatu menu tertentu. Hal ini sesuai dengan hukum Gossen
II yang berbunyi “Pada dasarnya, manusia cenderung memenuhi berbagai macam
kebutuhannya sampai pada tingkat intensitas / kepuasaan yang sama”.
Pengertian
Konsumsi menurut Irving Fisher
Teori konsumsi menurut Fisher adalah pertimbangan yang
dilakukan seseorang untuk melakukan konsumsi berdasarkan kondisi pada saat ini
dan kondisi pada saat yang akan datang. Dimana kedua kondisi tersebut akan
menentukan jumlah berapa banyak pendapatan yang akan ditabung, serta berapa
banyak pendapatan yang akan dikeluarkan atau dihabiskan untuk keperluan
konsumsi. Contohnya adalah jika pada saat ini seseorang melakukan konsumsi
dengan skala yang cukup besar, maka pada masa mendatang tingkat konsumsi
seseorang tersebut otomatis akan semakin kecil dan sedikit, dan begitu pula
sebaliknya.
Tujuan
konsumsi
Ada banyak tujuan orang melakukan
kegiatan konsumsi di antaranya adalah :
1. Mengurangi nilai guna barang atau
jasa secara bertahap Setiap orang yang melakukan konsumsi akan mengurangi nilai
guna barang atau jasa tersebut secara bertahap. Sebagai contohnya ialah seperti
memakai pakaian, kendaraan dan sepatu.
2. Menghabiskan nilai guna barang
sekaligus Konsumen juga dapat menghabiskan nilai guna barang sekaligus. Sebagai
contoh adalah makan dan minum.
3. Memuaskan kebutuhan secara fisik
Seseorang melakukan konsumsi bertujuan untuk mencukupi kebutuhan mereka secara
fisik. Kebutuhan tersebut telah dijelaskan pada pembahasan bab sebelumnya.
Contohnya ialah mengenakan pakaian yang bagus agar penampilannya bertambah
baik.
4. Memuaskan kebutuhan rohani Tidak
hanya kebutuhan secara fisik saja tujuan seorang konsumen melakukan kegiatan
konsumsi akan tetapi juga untuk memuaskan kebutuhan rohani seperti contohnya
ialah membeli kitab suci untuk kebutuhan religiusitas/ rohaninya.
5. mendapat penghargaan dari orang
lain.Kadang kala orang mengonsumsi barang atau jasa bukan hanya untuk memenuhi
kebutuhan hidup, tapi juga ingin mendapat penghargaan/pujian dari orang lain.
Contoh, orang memakai barang mewah yang harganya ratusan juta selain untuk
memenuhi kebutuhan akan barang, juga ingin mendapat penghargaan dari orang lain.
Pola
Konsumsi
Pola konsumsi merupakan suatu susunan akan kebutuhan
seseorang terhadap barang dan jasa yang akan dikonsumsi dan tergantung
berdasarkan pendapatan dalam jangka waktu tertentu. Perlu diketahui bahwa pola
konsumsi seseorang berbeda dengan orang yang lainnya. Hal ini tergantung dari
besarnya pendapatan seseorang tersebut untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya.
Seseorang juga akan menyusun kebutuhan konsumsinya berdasarkan prioritas yang
pokok kemudian sekunder. Seperti misalnya kebutuhan pokok adalah kebutuhan
untuk makan, pendidikan, dan kesehatan. Sedangkan yang termasuk ke dalam
kebutuhan sekunder adalah hiburan dan rekreasi. Sehingga ketika pendapatan
seseorang tersebut mengalami penurunan, maka orang tersebut akan memangkas
kebutuhan sekunder nya kemudian memprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan
konsumsi pokok terlebih dahulu. Hal ini akan menekan kebiasaan melakukan pola
konsumsi yang berlebihan. Karena pada dasarnya perilaku konsumtif akan
menimbulkan efek negatif yang tidak baik bagi tingkat perekonomian seseorang.
Maka dari itu, seseorang harus menerapkan pola konsumsi yang rasional dalam
pemenuhan kebutuhannya.
Selain
itu, besar kecilnya konsumsi yang dilakukan seseorang dipengaruhi oleh berbagai
faktor berikut ini :
1. Pendapatan
2. Perkiraan
harga di masa mendatang
3. Harga
barang yang bersangkutan
4. Barang
substitusi dan komplementer
5. Iklan
6. Ketersediaan
barang dan jasa
7. Selera
8. Mode
9. Jumlah
keluarga
10. Lingkungan
sosial budaya
Pola
konsumsi tiap orang berbeda-beda. Orang yang berpendapatan tinggi berbeda pola
konsumsinya dengan orang yang berpendapatan menengah, berbeda pula dengan orang
yang berpendapatan rendah. Pola konsumsi direktur berbeda dengan konsumsi
karyawan. Pola konsumsi guru berbeda dengan pola konsumsi petani. Pola konsumsi
orang yang hidup di daerah pedesaan berbeda dengan orang yang hidup di
perkotaan.
Komentar
Posting Komentar